Senin, 06 Maret 2017

cerpen judul Mudik



Setiap Tahun Sebelum Mudik


Mendengar kata mudik, anak-anaknya akan bangun lebih awal dari sebelumnya. Mereka akan mempersiapkan segalanya jauh sebelum hari ditentukan kapan akan pulang kampung. Kerinduan akan kampung halaman memang tidak pernah bisa terbendung lagi, begitu juga olehnya sebab, sejuta kisah tercurah ketika masih menjadi anak ingusan disana, hingga besar terlempar ke kota untuk mencari makan.
Memang tidak begitu menyenangkan namun mencoba untuk tetap mensyukuri keadaan. Sebagai karyawan pabrik yang gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membiayai anak sekolah, sedangkan suaminya baru saja di PHK, menganggur selama beberapa bulan lalu masuk kerja sebagai kuli bangunan. Kadang dia merasakan betapa pahitnya kehidupan, namun dia sering mengelus dada sembari menghibur diri agar tidak mengkhianati nikmat yang Tuhan berikan.
Dia teringat suasana Lebaran di kampung halaman yang membuatnya sedikit menyungging senyum. Namun seketika senyuman itu diputus lalu menatap langit-langit kamar sembari menidurkan anak ketiganya yang baru berusia tiga tahun. Ia menghela nafas pelan lalu mengecup kening anaknya yang masih sedikit membuka mata.
Ia teringat bagaimana kehidupan yang berubah total dikampung ketika Lebaran tiba. Semua berkumpul bersama keluarga dengan glamor dan bermewah-mewahan. Apalagi bagi keluarga yang berada di perantauan, pasti mereka pulang akan membawa mobil ataupun hal-hal baru untuk dijadikan barang bawaan ke kampung. Membuat kesan yang mewah dan sukses di perantauan.
Warga kampungnya akan berlomba-lomba menunjukan siapa yang paling terlihat mewah apalagi warga yang pulang dari perantauan mereka akan selalu menjaga image di mata warga lainnya. Dia merasa demikian dalam benak karena ia pernah hidup dalam ruang kehidupan seperti itu. Hingga akhirnya ia sadar bahwa makna Lebaran itu tidak seperti yang dia lakukan dulu, bergelamor dan menjaga image agar mendapat pujian dari orang lain.
Kini dia sedang berfikir akankah dia bersama keluarganya akan mudik tahun ini atau sebaliknya, sebab tahun kemarin dia mudik dengan terlambat sampai dikampung karena masalah dana. Dia masih ragu tentang lebaran tahun ini, semua belum dibicarakan dengan suaminya, pembicaraan malam itu hanya menyinggung mudik tahun ini saja belum bicara ke dalam.
Ia merasa bahwa suaminya sedikit menghindar darinya. Ia bepikir, alasan suaminya mengindar karena masalah dana untuk lebaran sekaligus mudik tahun ini. Baju-baju anak belum dibelikan, oleh-oleh untuk orang tua sekaligus saudara-saudara dikampung belum terurusi sedangkan di mata saudara dikampung, hidupnya sudah mendapat titik kebahagiaan yang diinginkan, sudah bahagia dengan pekerjaan yang setiap hari digelutinya, sebab beberapa lebaran tahun lalu ia selalu pulang dengan kemewahan.
‘’Ini semua salahku, aku terlalu memaksa diri dan mengikuti nafsu, hingga akhirnya aku terjepit di ruang sesak ini’’ lenguhnya dalam benak.
Ia kembali menghela napas pelan lalu mengusap wajah menghentikan lamunan, akan tetapi pikiran tentang mudik selalu melintas dikepala. Lalu ia diam membaringkan tubuh disamping gadis kecilnya. Terdengar suara pintu yang diketuk. Ia sangat hafal suara ketukan itu. Ia bangun dengan pelan agar gadis kecilnya tidak bangun dan menangis.
Ia membukakan pintu untuk suaminya lalu jalan bersama duduk di ruang makan. Seketika ia pergi ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Kopi yang dibuat akan menjadi pembuka pembicaraan malam tentang mudik tahun ini. Menatap wajah suaminya yang tanpak lemah lesu, kusut tertekuk membuat ia mengurungkan niat merembug tentang mudik tahun ini, akhirnya mengalah dan akan membicarakannya nanti diranjang ketika hendak tidur. Dia kini menemani suaminya diruang makan menyedu kopi.
Suasana sedikit hening hanya terdengar suara kendaraan yang sedikit tenang dan sayup-sayup lantunan ayat-ayat suci dari mushola yang berjarak seratus meter dari rumah yang dikontrak bertahun-tahun. Diatas ranjang mereka diam, mereka sibuk dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka sendiri, namun ia tidak suka dengan suasana yang tercipta hingga memberanikan diri untuk bicara.
‘’Mas, tahun ini kita mau mudik tidak?’’ tanyanya memulai.
‘’Niatnya mudik tapi?’’
‘’Uangnya tidak cukup buat mudik?’’ ucapnya memotong perkataan suaminya, seketika suaminya diam. Suasana kembali hening.
‘’Terus mau bagaimana, kalau tidak mudik pasti anak-anak akn terus meringik, dan orang tua dikampung akan bertanya tentang kita’’
‘’Ayah bingung, biar besok ayah cari uang untuk mudik’’
‘’Besok kapan, sebentar lagi mau Lebaran’’ suaminya kembali diam.
‘’Kita mudik seadanya saja tidak perlu seprti tahun-tahun lalu, yang penting cukup untuk biaya transportasi dan membeli oleh-oleh untuk orang-orang dirumah, tidak perlu berlebihan seperti tahun-tahun lalu’’ sambungnya. Mendengar ucapan tersebut suaminya yang semula menatap langit-langit kamar kini menjadi menatap wajahnya dengan tatapan yangs sedikit tajam.
‘’Iya, biar besok ayah lihat tabungan ayah, ayah rasa semua lebih dari cukup’’ balas suaminya dengan nada pelan. Ia membalas dengan senyum. Malam ini ditutup dengan senyuman oleh keduanya, tidak seperti beberapa malam yang telah berlalu, mereka saling diam.
Keesokan harinya mereka sibuk dengan pekerjaan. Namun hari ini kedua anaknya tidak mau dititpkan ke tetangga mereka memilih dirumah mengemasi barang untuk mudik minggu depam. Kedua ankanya menyambut gembira berita ibunya pagi tadi tentang mudik Lebaran tahun ini. Sepasanag suami istri itu berangkat berkerja mencari tambahan biaya untuk mudik.
Sore harinya ia duduk di teras kontrakan, sembari momong anaknya yang sedang bermain. Ia memangku kertas kecil sembari memegang bolpoin, ia menulisakan daftar barang yang hendak dibeli sebagai oleh-oleh untuk keluarga dikampung. Disenja itu ia benar-benar merasakan kelegaan.
Ia semakin tahu bahwa makna lebaran bukan berarti kemewahan dan glamor akan tetapi ketulusan hati yang ingin kembali kepada sebuah kebaikan. Ia mengingat hal itu sembari tersenyum kecil ditengah sorak gembira tiga anaknya yang sedang bermain dan disenja hari saat matahari hendak tenggelam sembari menanti suaminya pulang.(***) Kebumen(1/7/15) Akhsin Fuadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar