Setiap
Tahun Sebelum Mudik
Mendengar
kata mudik, anak-anaknya akan bangun lebih awal dari sebelumnya. Mereka akan
mempersiapkan segalanya jauh sebelum hari ditentukan kapan akan pulang kampung.
Kerinduan akan kampung halaman memang tidak pernah bisa terbendung lagi, begitu
juga olehnya sebab, sejuta kisah tercurah ketika masih menjadi anak ingusan
disana, hingga besar terlempar ke kota untuk mencari makan.
Memang
tidak begitu menyenangkan namun mencoba untuk tetap mensyukuri keadaan. Sebagai
karyawan pabrik yang gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membiayai
anak sekolah, sedangkan suaminya baru saja di PHK, menganggur selama beberapa
bulan lalu masuk kerja sebagai kuli bangunan. Kadang dia merasakan betapa
pahitnya kehidupan, namun dia sering mengelus dada sembari menghibur diri agar
tidak mengkhianati nikmat yang Tuhan berikan.
Dia
teringat suasana Lebaran di kampung halaman yang membuatnya sedikit menyungging
senyum. Namun seketika senyuman itu diputus lalu menatap langit-langit kamar
sembari menidurkan anak ketiganya yang baru berusia tiga tahun. Ia menghela
nafas pelan lalu mengecup kening anaknya yang masih sedikit membuka mata.
Ia
teringat bagaimana kehidupan yang berubah total dikampung ketika Lebaran tiba.
Semua berkumpul bersama keluarga dengan glamor dan bermewah-mewahan. Apalagi
bagi keluarga yang berada di perantauan, pasti mereka pulang akan membawa mobil
ataupun hal-hal baru untuk dijadikan barang bawaan ke kampung. Membuat kesan
yang mewah dan sukses di perantauan.
Warga
kampungnya akan berlomba-lomba menunjukan siapa yang paling terlihat mewah
apalagi warga yang pulang dari perantauan mereka akan selalu menjaga image di
mata warga lainnya. Dia merasa demikian dalam benak karena ia pernah hidup dalam
ruang kehidupan seperti itu. Hingga akhirnya ia sadar bahwa makna Lebaran itu tidak
seperti yang dia lakukan dulu, bergelamor dan menjaga image agar mendapat
pujian dari orang lain.
Kini
dia sedang berfikir akankah dia bersama keluarganya akan mudik tahun ini atau
sebaliknya, sebab tahun kemarin dia mudik dengan terlambat sampai dikampung
karena masalah dana. Dia masih ragu tentang lebaran tahun ini, semua belum
dibicarakan dengan suaminya, pembicaraan malam itu hanya menyinggung mudik
tahun ini saja belum bicara ke dalam.
Ia
merasa bahwa suaminya sedikit menghindar darinya. Ia bepikir, alasan suaminya
mengindar karena masalah dana untuk lebaran sekaligus mudik tahun ini.
Baju-baju anak belum dibelikan, oleh-oleh untuk orang tua sekaligus
saudara-saudara dikampung belum terurusi sedangkan di mata saudara dikampung,
hidupnya sudah mendapat titik kebahagiaan yang diinginkan, sudah bahagia dengan
pekerjaan yang setiap hari digelutinya, sebab beberapa lebaran tahun lalu ia
selalu pulang dengan kemewahan.
‘’Ini
semua salahku, aku terlalu memaksa diri dan mengikuti nafsu, hingga akhirnya
aku terjepit di ruang sesak ini’’ lenguhnya dalam benak.
Ia
kembali menghela napas pelan lalu mengusap wajah menghentikan lamunan, akan
tetapi pikiran tentang mudik selalu melintas dikepala. Lalu ia diam membaringkan
tubuh disamping gadis kecilnya. Terdengar suara pintu yang diketuk. Ia sangat
hafal suara ketukan itu. Ia bangun dengan pelan agar gadis kecilnya tidak
bangun dan menangis.
Ia
membukakan pintu untuk suaminya lalu jalan bersama duduk di ruang makan.
Seketika ia pergi ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Kopi yang dibuat
akan menjadi pembuka pembicaraan malam tentang mudik tahun ini. Menatap wajah
suaminya yang tanpak lemah lesu, kusut tertekuk membuat ia mengurungkan niat merembug tentang mudik tahun ini,
akhirnya mengalah dan akan membicarakannya nanti diranjang ketika hendak tidur.
Dia kini menemani suaminya diruang makan menyedu kopi.
Suasana
sedikit hening hanya terdengar suara kendaraan yang sedikit tenang dan
sayup-sayup lantunan ayat-ayat suci dari mushola yang berjarak seratus meter
dari rumah yang dikontrak bertahun-tahun. Diatas ranjang mereka diam, mereka
sibuk dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka sendiri, namun ia tidak suka
dengan suasana yang tercipta hingga memberanikan diri untuk bicara.
‘’Mas,
tahun ini kita mau mudik tidak?’’ tanyanya memulai.
‘’Niatnya
mudik tapi?’’
‘’Uangnya
tidak cukup buat mudik?’’ ucapnya memotong perkataan suaminya, seketika suaminya
diam. Suasana kembali hening.
‘’Terus
mau bagaimana, kalau tidak mudik pasti anak-anak akn terus meringik, dan orang
tua dikampung akan bertanya tentang kita’’
‘’Ayah
bingung, biar besok ayah cari uang untuk mudik’’
‘’Besok
kapan, sebentar lagi mau Lebaran’’ suaminya kembali diam.
‘’Kita
mudik seadanya saja tidak perlu seprti tahun-tahun lalu, yang penting cukup
untuk biaya transportasi dan membeli oleh-oleh untuk orang-orang dirumah, tidak
perlu berlebihan seperti tahun-tahun lalu’’ sambungnya. Mendengar ucapan
tersebut suaminya yang semula menatap langit-langit kamar kini menjadi menatap
wajahnya dengan tatapan yangs sedikit tajam.
‘’Iya,
biar besok ayah lihat tabungan ayah, ayah rasa semua lebih dari cukup’’ balas
suaminya dengan nada pelan. Ia membalas dengan senyum. Malam ini ditutup dengan
senyuman oleh keduanya, tidak seperti beberapa malam yang telah berlalu, mereka
saling diam.
Keesokan
harinya mereka sibuk dengan pekerjaan. Namun hari ini kedua anaknya tidak mau
dititpkan ke tetangga mereka memilih dirumah mengemasi barang untuk mudik
minggu depam. Kedua ankanya menyambut gembira berita ibunya pagi tadi tentang mudik
Lebaran tahun ini. Sepasanag suami istri itu berangkat berkerja mencari
tambahan biaya untuk mudik.
Sore
harinya ia duduk di teras kontrakan, sembari momong anaknya yang sedang bermain.
Ia memangku kertas kecil sembari memegang bolpoin, ia menulisakan daftar barang
yang hendak dibeli sebagai oleh-oleh untuk keluarga dikampung. Disenja itu ia
benar-benar merasakan kelegaan.
Ia
semakin tahu bahwa makna lebaran bukan berarti kemewahan dan glamor akan tetapi
ketulusan hati yang ingin kembali kepada sebuah kebaikan. Ia mengingat hal itu
sembari tersenyum kecil ditengah sorak gembira tiga anaknya yang sedang bermain
dan disenja hari saat matahari hendak tenggelam sembari menanti suaminya pulang.(***) Kebumen(1/7/15) Akhsin Fuadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar