Senin, 06 Maret 2017

Pemimpin dan Zuhud Artikel



Pemimpin dan Zuhud

Tampilnya wajah-wajah baru dalam pemerintahan daerah setidaknya memberi harapan dan membawa cita-cita baru  yang lebih terkonsep keberhasilannya bagi masyarakat dan bukan hanya sekedar isu belaka atau omong kosong. Akan tetapi membawa perubahan ditunggu-tunggu oleh sekian ribu pasang mata yang haus pada kesejahteraan. Tampilnya wajah-wajah baru juga harus mampu merubah wajah bangsa atau setidaknya membawa perubahan yang menonjol di tingkat daerah. Para pendatang baru di kursi pemerintahan harus membawa masyarakat hidup lebih aman, tentram dan sejahtera. Membawa serta mengajak masyarakat kepada mental pemberanai, mental kemerdekaan, mental bos dan jiwa patrotisme yang agamis. Bukan semakin mengurung dan membawa masyarakat kepada mental kerupuk, peminta-minta, pecundang, korup serta memiliki jiwa yang kabur pada patriotisme yang agamis.
Maka proyek pembangunan tentu harus ada dan nyata serta diproyeksikan untuk masa depan yang berkelanjutan. Sangat tidak sesuai jika pembangunan tidak diproyeksikan kepada masa depan misal dengan membangun industri yang tidak ramah lingkungan, hingg akhirnya dampak itu menimpa generasi dimasa depan. Tindakan tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi harus segera dikurangi bahkan dihentikan atau negara akan terus menghadapi permasalahan dimasa yang akan datang.  Jika terus dilakukan, secara tidak langsung pembangunan dengan cara demikian hanya menimbun masalah bukan memecahkan masalah, menciptakan PR masa depan, sebuah pembangunan yang tidak ada hentinya namun hasilnya nihil sehingga dana yang seharusnya untuk membangun sektor yang lain terhalang untuk menutup dampak yang diakibatkan di masa silam. Pembangunan semacam itu kurang efektif dan efisien.
Berhubungan dengan hal itu maka dalam pilkada serentak tahun ini, masyarakat harus benar-benar bersih, profesional serta selektif dalam memilih kepala daerah,  jangan sampai pengalaman buruk masa silam tertuang kembali dimasa yang datang. Ibarat kata jangan sampai masyarakat jatuh di lubang yang sama. Melalui pengalaman-pengalaman yang terjadi seharusnya masyarakt lebih bisa membaca, memahami karakter-karakter pemimpin yang layak memegang kekuasaan.
Menurut Abraham Lincoln seorag bisa bertahan dengan kesengsaraan akan tetapi jika kita ingin melihat karakter seorang maka dengan diberi kekuasaan. Melalui ungkapan Lincoln tersebut menandakan bahwa seorang yang diberi kekuasaan bisa berubah sikap dan wataknya. Maka dari itu masyarakat dalam memilih pemimpin daerah harus selektif, bersih dan profesional tanpa ada dorongan nafsu ataupun background yang lain, nurani harus dipertimbangkan dalam arti nurani yang melihat, mengetahui fakta-fakta yang ada. Bukan nurani yang kosong, akan tetapi nurani yang sudah terisi serta  memahami mana yang layak dan mana yang tidak, mana yang bisa dan mana yang tidak, untuk bisa mengetahui hal tersebut maka harus mencari fakta-fakta, sehingga sedikitnya mengurangi angka kegagalan dalam pembangunan.  
Permasalahan korupsi juga tidak pernah lepas dari kegagalan pembangunan. Berdasarakan data yang diambil dari  (http://www.jpnn.com) menyebutkan bahwa ‘’Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat hingga Januari 2014 sebanyak 318 orang dari total 524 orang kepala daerah dan wakil kepala daerah tersangkut dengan kasus korupsi’’ kasus. Hal ini menunjukan bahwa angka tindak korupasi yang dilakukan walikota masih tergolong tinggi. Selain masyarakat mengawasi upaya program-program pembangunan juga harus memilih calon yang baik dan tepat untuk memegang kekuasaan. Jadi memilih yang baik dan tepat terlebih dahulu lalu mengawasi dengan seksama.    
Relevansi-  Sehubungan dengan kondisi yang terus mendesak  pembangunan-pembangunan yang bermutu dan tepat sasaran maka masyarakat harus tepat dalam memilih kepala daerah untuk diberi mandat. Mengingat pentingnya pemilihan dan pemberian mandat,  zuhud merupakan cara untuk menentukan pilihan, tingkat kezuhudan dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pemilihan.
Zuhud secara sederhana adalah sifat tidak membutuhkan atau menginginkan dunia dimana kehidupan akhirat adalah menjadi prioritas pertama sehingga kehidupan di dunia adalah sebuah usaha yang ditempuh untuk mendapatkan kehidupan akhirat,  serta cinta dariNya.  Zuhud juga dapat diartikan sebagai usaha dunia yang memprioritaskan kehidupan selanjutnya sehingga tindak-tanduknya di dunia didasari oleh prinsip ketulusan hati ingin bekerja untuk kesejahteraan bersama. Menjauhi gemerlap, tipu daya dunia untuk menemukan kebahagiaan selanjutnya. Bersikap sederhana dan tidak memerlukan serta meminta hal yang lebih dari apa yang telah ada, merasa cukup atas apa yang telah dimiliki.
Akan tetapi seiring dengan kemajuan zaman,  zuhud seakan menjadi sebuah perbuatan yang asing dan salah sehingga  nilai zuhud ditinggalkan lalu beralih kepada zuhud dunia.  Zuhud ini yang keliru, keluar dan bertentangan dengan ajaran zuhud yang sebenarnya. Sifat zuhud juga sudah diajarkan oleh pemimpin terbesar dunia yang mampu mempengaruhi, menggerakan dan merubah dunia yang pada saat itu berada pada ke ruwetan dalam berbagai aspek kehidupan. Melalui kepemimpinannya membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, mengajak manusia kepada cara hidup yang baik. Jadi sifat zuhud harus ada dalam diri harus ada dalam diri pemimpin mengingat kemajuan zaman dan dunia yang semakin progres dan menggiurkan.
Kezuhudannya ketika menjadi seorang pemimpin diceritakan ketika beliau begitu sederhana dalam berpakaian bahkan pakaiannya penuh dengan jahitan yang dijahit oleh tangannya sendiri. Tidur beralaskan tikar hingga garis tikar membekas di wajahnya ketika bangun. Sifat zuhud beliau patut ditiru betapa beliau menjadi seorang pemimpin tidak mementingkan kepentingan sendiri. Maka zuhud harus ada dalam diri pemimpin. Keteladanan tersebut beda jauh dari pemimpin di zaman sekarang, pemimpin terbesar dunia dulu tidur beralaskan tikar sedangkan sekarang menggunakan kasur baru yang menghabiskan dan sampai dengan puluh milyar. Ini sebenarnya tantangan bagi para pemimpin sekarang mau berlaku zuhud seperti beliau?.
Fasilitas itu berhak di dapatkan tetapi  harus melihat kondisi masyarakat dan pembangunan negara. Hal mana yang jauh lebih penting, dan hal mana yang lebih dibutuhkan dalam situasi dan kondisi negara saat ini. Sederhananya manakah yang lebih penting, kasur  tidur atau pembangunan bangsa?. Akibat tindakan yang kurang mempertimbangkan keadaan yang ada maka akan menimbulkan image buruk di masyarakat yaitu lebih mementingkan tidur, memetingkan jalan-jalan daripada bekerja.
Membaca, melihat kezuhudan calon biasa didapat dengan cara mengetahui latar belakang kehdiupannya, perjalanan kehidupannya, sosialisanya terhadap lingkungan, komunikasi pada lingkungan, kesibukannya dalam bekerja, sejauhmana mereka melibatkan lingkungan dalam setiap kegiatan. Masyarakat diharapakan jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung atau membeli mahal kekecewaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar