Pemimpin dan Zuhud
Tampilnya wajah-wajah baru dalam pemerintahan daerah
setidaknya memberi harapan dan membawa cita-cita baru yang lebih terkonsep keberhasilannya bagi
masyarakat dan bukan hanya sekedar isu belaka atau omong kosong. Akan tetapi
membawa perubahan ditunggu-tunggu oleh sekian ribu pasang mata yang haus pada
kesejahteraan. Tampilnya wajah-wajah baru juga harus mampu merubah wajah bangsa
atau setidaknya membawa perubahan yang menonjol di tingkat daerah. Para
pendatang baru di kursi pemerintahan harus membawa masyarakat hidup lebih aman,
tentram dan sejahtera. Membawa serta mengajak masyarakat kepada mental
pemberanai, mental kemerdekaan, mental bos dan jiwa patrotisme yang agamis.
Bukan semakin mengurung dan membawa masyarakat kepada mental kerupuk,
peminta-minta, pecundang, korup serta memiliki jiwa yang kabur pada patriotisme
yang agamis.
Maka proyek pembangunan tentu harus ada dan nyata serta diproyeksikan
untuk masa depan yang berkelanjutan. Sangat tidak sesuai jika pembangunan tidak
diproyeksikan kepada masa depan misal dengan membangun industri yang tidak
ramah lingkungan, hingg akhirnya dampak itu menimpa generasi dimasa depan.
Tindakan tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi harus segera dikurangi
bahkan dihentikan atau negara akan terus menghadapi permasalahan dimasa yang
akan datang. Jika terus dilakukan, secara
tidak langsung pembangunan dengan cara demikian hanya menimbun masalah bukan
memecahkan masalah, menciptakan PR masa depan, sebuah pembangunan yang tidak
ada hentinya namun hasilnya nihil sehingga dana yang seharusnya untuk membangun
sektor yang lain terhalang untuk menutup dampak yang diakibatkan di masa silam.
Pembangunan semacam itu kurang efektif dan efisien.
Berhubungan dengan hal itu maka dalam pilkada serentak
tahun ini, masyarakat harus benar-benar bersih, profesional serta selektif
dalam memilih kepala daerah, jangan
sampai pengalaman buruk masa silam tertuang kembali dimasa yang datang. Ibarat
kata jangan sampai masyarakat jatuh di lubang yang sama. Melalui
pengalaman-pengalaman yang terjadi seharusnya masyarakt lebih bisa membaca,
memahami karakter-karakter pemimpin yang layak memegang kekuasaan.
Menurut Abraham Lincoln seorag bisa bertahan dengan
kesengsaraan akan tetapi jika kita ingin melihat karakter seorang maka dengan diberi
kekuasaan. Melalui ungkapan Lincoln tersebut menandakan bahwa seorang yang
diberi kekuasaan bisa berubah sikap dan wataknya. Maka dari itu masyarakat
dalam memilih pemimpin daerah harus selektif, bersih dan profesional tanpa ada
dorongan nafsu ataupun background yang
lain, nurani harus dipertimbangkan dalam arti nurani yang melihat, mengetahui
fakta-fakta yang ada. Bukan nurani yang kosong, akan tetapi nurani yang sudah
terisi serta memahami mana yang layak
dan mana yang tidak, mana yang bisa dan mana yang tidak, untuk bisa mengetahui
hal tersebut maka harus mencari fakta-fakta, sehingga sedikitnya mengurangi
angka kegagalan dalam pembangunan.
Permasalahan korupsi juga tidak pernah lepas dari
kegagalan pembangunan. Berdasarakan data yang diambil dari (http://www.jpnn.com)
menyebutkan bahwa ‘’Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)
mencatat hingga Januari 2014 sebanyak 318 orang dari total 524 orang kepala
daerah dan wakil kepala daerah tersangkut dengan kasus korupsi’’ kasus. Hal ini menunjukan bahwa angka tindak korupasi yang dilakukan
walikota masih tergolong tinggi. Selain masyarakat mengawasi upaya program-program
pembangunan juga harus memilih calon yang baik dan tepat untuk memegang
kekuasaan. Jadi memilih yang baik dan tepat terlebih dahulu lalu mengawasi
dengan seksama.
Relevansi-
Sehubungan dengan kondisi yang terus mendesak pembangunan-pembangunan yang bermutu dan
tepat sasaran maka masyarakat harus tepat dalam memilih kepala daerah untuk
diberi mandat. Mengingat pentingnya pemilihan dan pemberian mandat, zuhud merupakan cara untuk menentukan
pilihan, tingkat kezuhudan dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pemilihan.
Zuhud
secara sederhana adalah sifat
tidak membutuhkan atau menginginkan
dunia dimana kehidupan akhirat adalah menjadi prioritas pertama sehingga
kehidupan di dunia adalah sebuah usaha yang ditempuh untuk mendapatkan
kehidupan akhirat, serta cinta dariNya. Zuhud
juga dapat diartikan sebagai usaha dunia yang memprioritaskan
kehidupan selanjutnya sehingga tindak-tanduknya di dunia didasari oleh prinsip
ketulusan hati ingin bekerja untuk kesejahteraan bersama. Menjauhi gemerlap, tipu daya dunia untuk menemukan
kebahagiaan selanjutnya. Bersikap sederhana dan tidak memerlukan serta meminta hal yang lebih dari apa
yang telah ada, merasa cukup atas apa yang telah dimiliki.
Akan
tetapi seiring dengan
kemajuan zaman, zuhud seakan menjadi sebuah perbuatan yang asing dan salah sehingga nilai
zuhud ditinggalkan lalu beralih kepada zuhud dunia. Zuhud ini yang
keliru, keluar dan bertentangan dengan ajaran zuhud yang sebenarnya. Sifat
zuhud juga sudah diajarkan oleh pemimpin terbesar dunia yang mampu
mempengaruhi, menggerakan dan merubah dunia yang pada saat itu berada pada ke
ruwetan dalam berbagai aspek kehidupan. Melalui kepemimpinannya membawa manusia
kepada kehidupan yang lebih baik, mengajak manusia kepada cara hidup yang baik.
Jadi sifat
zuhud harus ada dalam diri harus
ada dalam diri pemimpin mengingat kemajuan zaman dan dunia yang
semakin progres dan
menggiurkan.
Kezuhudannya ketika menjadi seorang pemimpin diceritakan
ketika beliau begitu sederhana dalam berpakaian bahkan pakaiannya penuh dengan
jahitan yang dijahit oleh tangannya sendiri. Tidur beralaskan tikar hingga
garis tikar membekas di wajahnya ketika bangun. Sifat zuhud beliau patut ditiru
betapa beliau menjadi seorang pemimpin tidak mementingkan kepentingan sendiri.
Maka zuhud harus ada dalam diri pemimpin. Keteladanan tersebut beda jauh dari
pemimpin di zaman sekarang, pemimpin terbesar dunia dulu tidur beralaskan tikar
sedangkan sekarang menggunakan kasur baru yang menghabiskan dan sampai dengan
puluh milyar. Ini sebenarnya tantangan bagi para pemimpin sekarang mau berlaku
zuhud seperti beliau?.
Fasilitas itu berhak di dapatkan tetapi harus melihat kondisi masyarakat dan pembangunan
negara. Hal mana yang jauh lebih penting, dan hal mana yang lebih dibutuhkan
dalam situasi dan kondisi negara saat ini. Sederhananya manakah yang lebih
penting, kasur tidur atau pembangunan
bangsa?. Akibat tindakan yang kurang mempertimbangkan keadaan yang ada maka
akan menimbulkan image buruk di masyarakat yaitu lebih mementingkan tidur,
memetingkan jalan-jalan daripada bekerja.
Membaca, melihat kezuhudan calon biasa didapat dengan
cara mengetahui latar belakang kehdiupannya, perjalanan kehidupannya,
sosialisanya terhadap lingkungan, komunikasi pada lingkungan, kesibukannya
dalam bekerja, sejauhmana mereka melibatkan lingkungan dalam setiap kegiatan.
Masyarakat diharapakan jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung atau
membeli mahal kekecewaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar