Rasa
cemas, depresi dan frustasi, menjadi hal yang tidak mungkin terjadi di zaman
yang penuh tantangan ini. Persaingan bisnis, perebutan kursi jabatan, misi-misi
berkuasa seakan tidak pernah lepas dari kehidupan sekarang.
Terkadang
kita para pemuda, generasi muda sering bertanya-tanya kepada diri kita sendiri,
tentang bagaimana masa depan kita nanti, bagaimana keuangan kita nanti,
bagaimana modal nikah kita nanti, apakah akan sukses dan menjadi orang besar
atau selamanyanya samnya akan menjadi seorang buruh.
Begirtu
juga dengan para pegawai negeroi sipil, terkadang bertanya kepada diri ki
sendiri, bagaimana kalau sudah pension nanti, bagaimana menjalani hari tua
nanti, bagaimana dengan urusan biaya rumah tangga nanti.
Tidak
hanya itu, bagai para karyawan sebuah perusahaan akan selalu bertanya-tanya,
bagaimana masa depannya nanti. Bagaimana kalau dirinya dipecat, bagaimana kalau
dirinya terkena PHK, bagaimana juga kalau kontraknya habis, bagaimana juga
nanti kalau tidak ada perpanjang kontrak, dan bagaimana juga nanti dia akan
bekerja, setelah kontrak itu habis.
Adapun
sebuah pertanyaan yang lebih menukik tajam yang datang kepada para orang tua,
bagaimana masa tuanya nanti, apakah anak dan cucu akan merawat atau bahkan justru
mentelantarkannya. Hanya hidup berdua dengan seorang kekasihnya di dalam sebuah
rumah yang besar ataupun kecil. Anak dan cucunya jauh merantau.
Pertanyaa-pertanyaan
masa depan senantiasa mengelilingi kita, yang terkadang membuat kita merasa
cemas terhadap masa depan yang belum dan datang dan belum jelas mendatangi kita
atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak menjadi sesuatu hal yang
misterius dan menakutkan bagi manusia yang sedang dilanda kecemasan.
Namun
banyak pula yang tidak bisa mengendalikan diri, yang tidak bisa menenangkan
diri sehingga berujung pada depresi. Dari banyaknya kasus depresi banyak pula
yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri,
karena memang dirinya tidak bisa mengendalikan emosi dan begitu besarnya
kecemasan yang datang padanya sehingga menggoyahkan kekuatan mental dan
spiritual dirinya.
Maka,
kita harus bisa mengatasi rasa cemas itu sebelum rasa cemas itu sendiri
mendepresikan kita dan membunuh diri kita. Sebab, terlalu banyak orang-orang
yang menyayangi dan membutuhkan kita, keluarga, dari istri sampai anak-anak
kita. Banyak orang-orang terkasih yang mengharapkan kita akan selalu semangat
dan bahagia bersamanya. Maka jangan sampai rasa cemas itu mematahkan kita serta
membunuh kita dari kebahagiaan bersama keluarga maupun saudara.
Dale
Carnegie, salah seorang penulis internasional best seller, menuliskan dalam
sebuah buku tentang bagaimana cara mengatasi rasa cema yang datang kepada kita.
Maka lakukan hal ini yang disarankan oleh dale Carnegie untuk mengatasi
kecemasan yang ada;
1. Hilangkan kecemasan dari pikiran
anda dengan menyibukan diri. Aktivitas yang bayak adalah salah satu bentuk
terapi terbaik yang pernah dilakukan untuk menyembuhkan ‘’wibbers gibbers’’.
2. Jangan
menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang remeh. Jangan bairkan hal-hal yang
kecil- rayap-rayap kerdil dalam kehidupan- menghancurkan kebahagiaan Anda.
3. Gunakan
hukum rata-rata untuk mematahkan kecemasan Anda.Tanyakan kepada diri
Anda’’Seberapa besar kemungkinan hal itu akan terjadi?’’.
4. Bekerjasama
dengan hal yang tidak terelakkan. Jika Anda tahu sebuah keadaan berada di luar
kekuatan Anda untuk merubah atau memperbaikinya, katakana kepada diri Anda’’Hal
itu memang sudah begitu, ia tidak bisa dirubah’’
5. Tempatkan
perintah ‘’berhenti’’ pada kecemasan
Anda. Putuskan berapa nilai kecemasan yang dikandung oleh sesuatu dan menolak
untuk membayar lebih dari itu.
6. Biarkan
masa lalu menguburkan dirinya sendiri. Jangan pernah mencoba menggergaji serbuk
kayu.
Demikianlah
beberapa cara atau saran yang harus dilakukan untuk menghilangkan kecemsan pada
diri Anda. Lakukan hal itu secepat mungkin ketika kecemasan itu mulai dirasa
menghampiri diri Anda dan sebelum depresi mengubur Anda sebab, Anda memiliki
waktu yang sangat berharga daripada terpuruk dan mengurung diri dalam kecemasan
dan depresi.
Masih
banyak hal yang harus Anda lakukan diluar sana untuk merubah kecemasan menjadi
kebahagiaan. Masih banyak waktu yang harus Anda pakai untuk membahagiaan diri
Anda, keluarga Anda dan juga orang terkasih Anda. Tanamkan pada diri Anda bahwa
Anda adalah manusia yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh mereka semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar