Disusun untuk menyelesaikan tugas makalah
Mata kuliah :
Akhlak Taswuf
Dosen Pengampu : Sudadi M.Pd.I
Disusun oleh:
Akhsin
Fuadi (14115338)
PROGRAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(IAINU)
KEBUMEN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha
Esa yang telah memberikan rahmat serta
hidayahnya sehingga pada hari
ini kita dapat menyelesaikan
makalah ini tanpa halangan
suatu apapun yang
berjudul “Urgensi
Tasawuf di Zaman Modern“
Saya ucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah mendukung terselesaikannya makalah
ini antara lain :
1. Kepada
Dosen Mata Kuliah Akhlak
Tasawuf Bapak Sudadi. M. Pd.I
2. Kepada kedua orang tua yang telah mendukung.
Akhir
kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis
pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh
dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat
membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan
terima kasih.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.
Latar
Belakang........................................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.
Pengertian
tasawuf........................................................................... ... 2
B.
Asal Usul Tasawuf............................................................................... 4
C.
Implementasi Tasawuf dalam Masyarakat Modern............................. 6
D.
Pentingnya Tasawuf dalam Masyarakat Modern................................. 8
BAB III PENUTUP...................................................................................... 14
A.
Kesimpulan........................................................................................... 14
B.
Saran..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 15
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era globalisasi telah bergulir di tengah kehidupan
masyarakat. Alfin Toffler mengingatkan bahwa dunia sedang memasuki peradaban
gelombang ketiga, yaitu gelombang pasca industri yang ditandai dengan kemajuan
ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang menjadi ciri utama globalisasi.
Memasuki era globalisasi ini kita dihadapkan dengan
berbagai tantangan-tantangan kehidupan yang menuntut kita untuk selalu
mengikuti gerakan peradaban tersebut, sehingga secara tidak langsung kita
terbawa pada pandangan materialisme, positivisme, kapitalisme, pragamatisme dan
berbagai pandangan sekuler lainnya yang sebenarnya tidak lagi ramah lingkungan.
Pandangan sekluer yang banyak dikonsumsi masyarakat
dalam menjalani kehidupan akan membuat jiwa masyarakat menjadi mengalami
keguncangan, kerapuhan, stres dan mudah terjadi konflik dalam diri ataupun
antar sesama manusia. Mereka akan merasa ada yang selalu kurang dalam dirinya,
jiwanya terbelah, ada yang hilang karena belum siap menghadapi dunia yang penuh
dengan persaingan.
Maka sudah saatnya masyarakat kembali mencari,
menemukan keutuhan hatinya yang terpisah karena pengaruh globalisasi yakni
dengan memenuhi kebutuhan spiritual hidup sebagai wujud sebuah konsekuensi
logis dari sebuah pandangan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari akal dan
jasmani saja akan tetapi memiliki rohani yang merupakan pancarana ilahiah.
Kegelisahan, keguncangan jiwa putus asa dan stres diakibatkan karena masyarakat
mengabaikan kebutuhuan spiritual hidup, membiarkan rohani kosong, serta tidak
memberi makanan kepada roh dalam jasadnya yang sejatinya tidak betah berada
dalam jasad itu.
Selanjutnya, akhir-akhir ini fenomena disintegrasi
nilai-nilai spiritual semakin banyak misal banyak para pemangku kekuasaan yang
melakukan tindakan korup, penjual yang tidak jujur dan bisnis gelap atu
terlarang. Berbagai fenomena itu sebenarnya membutuhkan sebuah pelurusan dan
pemenuhan hidup yang seimbang antara jasamani dan rohani agar mereka bisa
menjalankan kehidupan sesuai dengan hakikat hidup yang sebenarnya.
Maka, sudah seharusnya masyarakat membangun kembali
nilai-nilai spiritual dengan mempertebal visi tasawuf ke dalam kehidupan.
A.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
paparan penulis di atas, maka rumusan masalah yang dapat ditarik oleh penulis
yaitu :
1. Apa pengertian dari Tasawuf?
2. Bagaiman tasawuf yang diajarkan oleh Rasulullah SAW?
3. Seberapa pentingkah tasawuf di zaman modern?
BAB II
URGENSI TASAWUF DI ZAMAN MODERN
A.
Pengertian Tasawuf
Terdapat sejumlah teori yang berkaitan dengan pengertian
tasawuf. Harun Nasution misalnya mengatakan
bahwa, teori yang banyak diterima adalah istilah itu berasal dari suf yaitu wol. Yang dimaksud bukanlah
wol dalam arti modern, wol yang dipakai orang-orang kaya, tetapi wol primitif
dan kasar yang dipakai di zaman dahulu oleh orang-orang miskin di Timur Tengah.
Di zaman itu, pakaian kemewahan adalah sutera. Orang sufi ingin hidup sederhana
dan menjauhi hidup keduniawian dan kesenangan jasmani, untuk itu mereka hidup
sebagai orang miskin dengan memakai wol kasar tersebut.
Kata tasawuf berasal dari bahasa Arab tashawwafa yatashawwafu tashawwufan yang
artinya bersih, murni, jernih. Pengertian ini mirip dengan kata zakka yuzakki tazkiyatan yang berarti
membersihkan jiwa atau batin dari berbagai sifat yang buruk seperti takabur, syirik, dusta, fitnah, buruk
sangka, berbuat dosa dan maksiat. Sifat ini berbeda dengan sifat thaharaf yang berarti membersihkan diri
dari segi lahiriah dan fisik. Dengan demikian, kata tasawwuf mengacu pada dimensi batin (esoteric) manusia, sebagai lawan dari dimensi (exoteric) manusia. Dengan kedua dimensi ini diperbadingkan antara
satu dengan yang lainnya, dalam pandangan tasawwuf
ternyata dimensi batin jauh lebih utama. Hal ini sejalan dengan hadis yang artinya:
‘’Sesungguhnya Allah tidak akan menilai kepada jasad dan rupamu, tetapi
Allah akan menilai hati dan amal perbuatanmu sekalian. ( HR. Ibnu Mubarak)[1]
Ada pula yang berpendapat dai perkataan ‘’shufanah’’, ialah sebagngsa kayu yang
memersik tubuh di padang pasir tanah Arab. Terepi setengah ahli bahasa dan
riwayat, terutama di zaman yang akhir ini mengatakan bahwa perkataan ‘’shufi’’ itu bukanlah bahasa Arab,
tetapi Yunani yang lama telah diarabkan. Asalnya theosofie, artinya ‘’ilmu
ketuhanan’’, kemudian diarabkan dan diucapkan dengan lidah orang Arab
sehingga berubah menjdi’’tasauf’’.
Walapun dari mana asal kata itu, dari bahasa Arabkah,
atau bahsa Yunani, namun dari asal-asal pengambilan itu sudah nyata bahwa yang
dimaksud dengan kaum Tasauf, atau
kaum’’shufi’’ itu ialah kaum yang
menyisihkan diri dari orang banyak, dengan maksud membersihkan hati, laksana
kilat kaca terhadap Tuhan, atau memakai pakaian yang sederhana, tidak
menyerupai pakaian dunia, biar hidup kelihatan kurus kering bagi kayu di padang
pasir, atau memperdalam penyidikan tentang perhubungan makhluk dengan Khaliknya.
Seperti yang dimaksud oleh perkataan Yunani itu.
Tasauf adalah salah satu
aliran filsafat yang maskudnya bermula ialah hendak zuhud dari dunia yang fana.
Tetapi lantaran banyakanya campur gaul dengan negeri atau bangsa lain, banyak
sedikitnya masuk jugalah pengaruh agama dari bangsa lain itu ke dalamnya.
Karena tasawuf bukanlah agama melainkan suattu ikhtiar
yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula dengan tidak sadar,
telah tergelincir dari agama atau terasa enaknya pengajaran agama lain dan
terikut dengan tidak sengaja.
Ibnu Khaldun berkata:
‘’Tasawuf itu adalah semacam ilmu syariah yang timbul kemudian di dalam
agama. Asalnya ialah bertekun beribadat dan memutuskan pertalian dengan segala
selain Allah , hanya menghadao Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta
membenci perkara-perkara yang selalu mendaya orang banyak, kelezatan harta
benda-benda dan kemegahan . Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan
ibadat’’
Demikianlah akalu kita dengarkan kupasan Ibnu Khaldun
yang meneropong suatu perkara dari segi ilmu pengetahuan. Tetapi ahli-ahli
tasawuf tasauf yang terbesar
mempunyai pula kaidah-kaidah sendiri-sendiri tentang tasauf itu. ada yang berkata.
‘’Tasauf ialah memutuskan hubungandengan makhluk dan menjalon perhubungan
dengan Khalik’’
Junaid berkata:
Tasauf ialah keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi
perangai yang terpuji’’
Yang paling hebat ialah menurut yang diartikan Al Hallaj.
Seketika dia disalib dan menunggu ajal, sebab dia menyatakan bawa dirinya
bersatu dengan Tuhan, maka ketika orang bertanya kepadanya:
‘’Diwaktu sekarang patut engaku berpesan kepada kami, apakah arti yang
sejati dari tasauf itu?’’
Daerah telah titik dari tubuh dab dari dalam matanya,
punggungnya telah hangus kena panas, hanya menunggu tubuhnya akan
dipotong-potong. Waktu itu dia berkata, kata yang penghabisan:
‘’Tasauf ialah yang engkau lihat dengan matamu ini, inilah dia tasauf’’.[2]
Dari sejumlah pengertian diatas dapat diambil kesimpulan
bahwa tasawuf adalah usaha seseorang untuk dekat dengan Tuhannya dengan cara mensucikan
diri, meninggalkan kehidupan dunia yang fana, menjauhi dosa atau maksiat dan
segala bentuk perbuatan duniawi yang fana.
B.
Asal Usul Tasawuf
Berkaitan dengan asal usul timbulnya tasawuf terdapat
berbagai teori yang dimajukan para ahli. Sebagaian ada yang berpendapat, bahwa
tasawuf lahir dari luar islam dan sebagaian ada yang berpendapat bahwa tasawuf
lahir dari kalangan islam sendiri.
Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar
islam berpendapat bahwa tasawuf bersal dari kebiasan rahib-rahib Kristen yang
menjauhi dunia dan kesenangan materill. Ada pula yang mengatakan, bahwa tasawuf
berasal dari filsafat Pythagoras dengan jarannya untuk meninggalkan kehidupan
materill dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk
ke islam atas pengaruh filsafat Plotinus. Menurut filasafat Plotinus, roh
mancar dari zat Tuhandan kemudian akan kembali pada Tuhan. Tetapi dengan
masuknya roh ke dalam alam materi, maka ia menjadi kotor dan untuk dapat
kembali ke aslinya, ia harus terlebih dahulu disucikan. Tuhan Mahasuci dan Yang
Mahasuci tidak didekati kecuali oleh orang yang suci. Penyucian roh terjadi
dengan meninggalkan hidup kematerian dan dengan mendekatkan dirikepada Tuhan
sedekat mumgkin; kalau bisa, bersatu dengan Tuhan semasih ada dalm hidup
duniawi ini. Upaya ini dapat dilakukan dengan tasawuf.
Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf muncul dari dasar
ajaran agama islam sendiri, antara lain terdapat dalam Al-Quran dan AL-Hadis.
Di dalam Al-Quran ayat 168 surat al
baqarah misalnya terdapat ayat yang menggambarkan tentang kedekatan manusia
dengan Tuhan, yang berbunyi:
‘’Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka (
jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdosa apabila ia berdoa kepada-Ku. ( QS. Al-Baqarah(2): 186)
Selanjutnya, di dalam Hadis dinyatakan:
‘’Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin
dikenal, maka Ku ciptakan makhluk dan mereka pun kenal kepada-Ku melalui
diriku.’’( Hadis Qudsi).
Selain itu fakta juga menunjukan bahwa kebiasan
menjauhkan diri dari pengaruh material dan duniawi sesungguhnya telah dijumpai
dari kebiasan hidup nabi Muhammad SAW dan para sahabat.[3]
Di zaman Nabi, telah ada juga sahabat-sahabat yang
menjauhkan diri dari hidup duniawi, banyak berpuasa di siang hari, dan bersalat
serta membaca Al-Quran di malam hari, seperti Abdullah Ibn Umar, sehingga Nabi
mengatakan kepadanya: ‘’Tubuhmu juga
memiliki hak-hak yang harus kau penuhi.’’ Selain dari Abdullah Ibnu Umar
disebut pula nama-nama Abu Darda, Abu Zar Al- Ghiffari, Bahlul Ibn Zuaib, dan
Kahmas Al-Hilali.[4]
Berdasarkan keterangan tersebut, bahwa tasawuf dalam
islam sungguhpun tanpa ada pengaruh dari luar, dapat muncul sendiri dari pengaruh
ajaran islam sendiri. Selain itu, boleh jadi antara tasawuf dalam islam dengan tasawuf di luar islam terdapat
unsur persamaan atau terjadi titik singgung antara keduanya. Hal ini juga
menunjukan, bahwa tasawuf adalah ajaran yang bersifat universal dan melekat
pada diri manusia.Yakni, bahwa seluruh umat manusia memiliki potensi bertasawuf
yang sama, yatiu potensi untuk mencari Tuhan, mengetahui, memahami, mendekati,
memohon, menyayangi dan mencintainya. Potensi dalam bahasa Arab disebut qalb ( hati ), dzauq ( rasa ketuhanan ), ruh
( potensi ketuhanan ), sirr (
merasakan keberadaan Tuhan ), hubb (
perasaan cinta kepada Tuhan ).
Namun demikian
ekspresi atau bentuk ungkapan dari potensi ini berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Atas perbedaan ini, maka perbedaan secara lahiriah dalam tasawuf
antara satu dengan lainnya tidak menjadi halangan. Berinteraksi, dan membangun hubungan dan
komunikasi yang intens melalui unsur persamaan antar keduanya. Dengan cara ini
maka aliran tasawuf yang satu dan aliran tasawuf dengan yang lainnya akan
saling bertemu. Di era globalisasi sekrang ini, pertemuan antara aliran tasawuf
atau kerjasama yang hamonisasi merupakan sebuah keniscayaan.[5]
C.
Implementasi Tasawuf dalam Masyarakat Modern
Tasawuf merupakan sebuah sesuatu hal atau ajaran yang
tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan, masyarakat ligkungan dan globalisasi. Agar
manusia mampu berjalan di tengah arus globalisasi maka dia harus menumbukan
kembali nilai-nilai ajaran spiritual agar terjadi keseimbangan dan hidup
sehingga jiwanya tikak terguncang, stres, gundah, gelisah. Maka jiwa-jiwa
masyarakat harus dibimbing untuk kembali kepada nilai-nilai ajaran spiritual
dengan cara tasawuf.
Di zaman modern, terjadilah pergeseran dan perubahan implementasi
tasawuf karena sejumlah alasan misalnya,
manusia yang harus terus mengikuti perkembangan zaman, memenuhi kewajibannya
sebagai khalifah dan sebagainya. Maka dengan adanya konsep alasan tersebut
Implementasi tasawuf sedikit lebih transformatif dengan tidak harus
meninggalkan keduaniaan dengan sepenuhnya.
Tasawuf di zaman modern ini lebih ditekankan kepada misi
trasendental yang harus ada dalam diri masyarakat. Sehingga setiap tindak-tandu
masyarak orientasinya untuk mendapat
kebahagiaan di akhirat. Segala kehidupan di dunia merupakan manifestasi, dan
jalan yang di tempuh untuk mendapat kebahagiaan di akhirat. Ada visi sufistik
trasendental dalam perbuatannya, memprioritaskan kehidupan akhirat tanpa
mengenyampngkan kehidupan dunia sebab zaman akan terus menuntut manusia untuk
mengikutinya. Maka umat islam harus mengikuti menciptakan inovasi-inovasi baru
untuk kemajuan islam itu sendiri.
Jadi tasawuf sekarang bisa di praktekan dengan cara
mengerjakan kehidupan dunia sebagai hubungan baik dengan manusia ( hablumin an-nas
) akan tetapi di esensinya bernilai ibadah ( hablumin-llah) sehingga terjadi
keseimbangan hidup.
D.
Pentingnya Tasawuf dalam Masyarakat Modern
Adapun pentingnya tasawuf dalam khidupan masyarakat
modern antara la lain pertama, salah satu ciri khas mayarakat modern ialah
terlalu mengandalkan kekuatan akal dan fisik, atau hanya mengakui sesuatu yang
masuk akal dan tampak dalam pandangan yang selanjutnya melahirkan paham
rasionalisme, empirisme, positivisme, sekuralisme, hedonisme, dan pragmatime.
Paham yang denikian sangat merugikan keutuhan manusia sebgai makhluk hidup yang
selain memiliki pancaakal dan pancaindra, juga memiliki hahwa nafsu, al-nafs, qalb, fuad, ruh, sirr, dzauq
dan lainnya. Berbagi potensi rohaniah ini sesuatu yang real yakni ada dengan
sesungguhnya, sebagaimana akal dan fisik. Akibat dari hidup yang hanya
mengutamakn akal dan pancaindra ini maka manusia akan seperti robot., mesin
yang hilang keutuhannya. Akibat dari keadaan yang demikian, manusia menjadi
tidak utuh, merasa terasing, kesepian, rapuh, tidak punya pilihan dan pegangan
hidup yang kokoh, yakni nilai-nilai spiritual yang berasal dari Allah SWT untuk
menyelamatkan keadaan yang demikian perlu ajaran tasawuf.
Kedua, masyarakat modern yang bergerak di bidang jasa dan
industri dengan berbagi aneka ragamnya semakin memerlukan nilai-nilai spiritualyang
dapat memmberikan bekal dan peganagn yang kokoh bagi usahanya. Menjadi sufi di
masa modern saat ini tidak mesti pergi bertapa ke gunung, atau mengisolasi diri
ke tempat yang sunyi, atau membiarkan hidup miskin dan sengsara. Pandangan
tasawuf seperti itu kini telah diganti dengan tasawuf yang tranformatif dan integrated, yaitu nilai-nilai tasawuf
seperti kesederhanaan, kejujuran, kehati-hatian, kesabaran, keteguhan dalam
prinsip, kepercayaan yang teguh kepada Tuhan. Keyakinan pada janji Tuhan dan
nilai-nilai ajaran tasawuf lainnya ternyata sangat dibutuhkan dalam berbagai
usaha bisnis di zaman modern.
Ketiga, ajaran selalu dekat dengan Allah SWT sebagaimana
yang diajarkan dalama tasawuf dan kesungguhan dalam membersihkan diri dari dosa
serta kesungguhan mencari keridhaan Allah SWT saat ini ternyata juga digunakan
dalam prosesi penyembuhan berbagai penyakit. Masyarakat modern saat ini sudah
mulai sadar bahwa diantara penyakit ada yang penyebabnya adalah karena hubungan
yang tidak baik dengan Tuhan. Oleh karena itu proses penyembuhan dapat
dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah sebagaiman yang diajarkan
tasawuf.
Keempat, jumlah orang yang gelisah, pikiran kacau stres dan
gejala penyakit kejiwaan lainnya saat ini semakin banyak jumlahnya . Keadaan
jiwa yang seperti itu mengakibatkan produktivitas kerja menurun dan ketentraman
hidup semakin terancam. Masyarakat modern semacam itu semakin membutuhkan
sentuhan rohani dan penncerahan spiritual yang dapat mengembalikan kehidupannya
menjadi lebih nyaman, tenang, tentram, damai dan harmonis yang selanjutnya
sangat amat dibutuhkan guna meningkaytkan produktivitasnya.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tasawuf
adalah usaha seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara
mensucikan, membersihkan diri dari segala perbuatan doa dan meninggalkan
kefanaan dunia. Sejumlah teori yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar
islam misalnya dari kristen, menurutnya tasawuf berasal dari kebiasaan
rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan materill. Ada pula yang mengatakan
bahwa tasawuf berasal dari filsafat Pythagoras dengan ajarannya meninggalkan
kehidupan materill dan memsukan kehidupan kontemplasi. Selain itu juga ada yang
mengatakan bahwa tasawuf berasal dari ajaran teori filsafat Plotinus yang
mengatakan bahwa roh mencar dari zat Tuhan dan kemudian kembali pada Tuhan.
Akan tetapi pada dasarnya tasawuf muncul dari ajaran islam itu sendiri, bukan dari
ajaran luar islam.
Memasuki
era globalisasi terjadilah transformatif pandangan tasawuf yang semula dengan
cara mengisolasi diri ke tempat yang sunyi atau membiarkan hidup miskin. Namun
di zaman modern tasawuf lebih integrated yaitu dengan menningkatkan nilai-nilai
tasawuf seperti kesederhanaan, kejujuran, kesabaran, keteguhan prinsip,
kepercayaan yang teguh terhadap Tuha. Tasawuf juga dapat dipraktekan dengan
cara mengerjakan sesuatu yang dalam prakteknya merupakan menifestasi kehidupan
akhirat, sehingga ada visi trasendental sufistik dalam pekerjaannya.
Masyarakat
khususnya di daerah perkotaan telah kehilangan separuh dari hatinya, mereka
sering mengalami depresi, keguncangan jiwa dan stres karena pengaruh persaingan
global yang tidak dapat di hentikan. Agar masyarakat tidak mengalami kekosongan
hati, kegelisahan dan gejala jiwa lainnya sudah seharusnya masyarakat kembali
kepada nilai-nilai spiritual yaitu dengan cara tasawuf. Jadi tasawuf menjadi
sangat penting di dalam setiap kemajuan zaman.
B.
Saran
Penyusun menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami berharap semoga makalah
ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi agar teman-teman bisa membuat makalah
yang lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka. 1996. Tasauf Modern.
Jakarta: Pustaka Panjimas.
Nata, Abuddin. 2001. Studi Islam Komperhensif. Jakarta:
Kencana.
Nasution, Harun. 2002. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid
II. Jakarta: UI Press.
[1] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif, Jakarta: Kencana, 2001. halaman 314-315
[2] Hamka, Tasauf
Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995. Halaman 1-3
[3] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif......hal 315-317.
[4] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya , jilid II. Jakarta: UI
Press, 2002. Halaman 71.
[5] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif...
Hal 317-318.
[6] Abuddin Nata, Studi islam
Komperhensif......halaman 329-330
Tidak ada komentar:
Posting Komentar