Kamis, 23 Maret 2017

MAKALAH TASAWUF- KONSEP TASAWUF MODERN



URGENSI TASAWUF DI MASA MODERN
Disusun untuk menyelesaikan tugas makalah
 Mata kuliah                    : Akhlak Taswuf
Dosen Pengampu            : Sudadi M.Pd.I
iainu.jpeg
Disusun oleh:
Akhsin Fuadi (14115338)

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(IAINU) KEBUMEN
2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur  kehadirat Tuhan  yang maha  Esa yang  telah  memberikan rahmat  serta  hidayahnya sehingga  pada  hari  ini kita  dapat  menyelesaikan  makalah ini  tanpa  halangan  suatu  apapun  yang  berjudul Urgensi Tasawuf di Zaman Modern
Saya ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung terselesaikannya  makalah  ini  antara lain :
1.      Kepada Dosen Mata Kuliah Akhlak Tasawuf  Bapak Sudadi. M. Pd.I
2.      Kepada  kedua orang tua yang telah mendukung.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terima kasih.

Penulis






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA  PENGANTAR................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.    Latar Belakang........................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.         Pengertian tasawuf........................................................................... ... 2
B.         Asal Usul Tasawuf............................................................................... 4
C.         Implementasi Tasawuf dalam Masyarakat Modern............................. 6
D.         Pentingnya Tasawuf dalam Masyarakat Modern................................. 8
BAB III PENUTUP...................................................................................... 14
A.         Kesimpulan........................................................................................... 14
B.         Saran..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 15




BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Era globalisasi telah bergulir di tengah kehidupan masyarakat. Alfin Toffler mengingatkan bahwa dunia sedang memasuki peradaban gelombang ketiga, yaitu gelombang pasca industri yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang menjadi ciri utama globalisasi.
Memasuki era globalisasi ini kita dihadapkan dengan berbagai tantangan-tantangan kehidupan yang menuntut kita untuk selalu mengikuti gerakan peradaban tersebut, sehingga secara tidak langsung kita terbawa pada pandangan materialisme, positivisme, kapitalisme, pragamatisme dan berbagai pandangan sekuler lainnya yang sebenarnya tidak lagi ramah lingkungan.
Pandangan sekluer yang banyak dikonsumsi masyarakat dalam menjalani kehidupan akan membuat jiwa masyarakat menjadi mengalami keguncangan, kerapuhan, stres dan mudah terjadi konflik dalam diri ataupun antar sesama manusia. Mereka akan merasa ada yang selalu kurang dalam dirinya, jiwanya terbelah, ada yang hilang karena belum siap menghadapi dunia yang penuh dengan persaingan.
Maka sudah saatnya masyarakat kembali mencari, menemukan keutuhan hatinya yang terpisah karena pengaruh globalisasi yakni dengan memenuhi kebutuhan spiritual hidup sebagai wujud sebuah konsekuensi logis dari sebuah pandangan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari akal dan jasmani saja akan tetapi memiliki rohani yang merupakan pancarana ilahiah. Kegelisahan, keguncangan jiwa putus asa dan stres diakibatkan karena masyarakat mengabaikan kebutuhuan spiritual hidup, membiarkan rohani kosong, serta tidak memberi makanan kepada roh dalam jasadnya yang sejatinya tidak betah berada dalam jasad itu.
Selanjutnya, akhir-akhir ini fenomena disintegrasi nilai-nilai spiritual semakin banyak misal banyak para pemangku kekuasaan yang melakukan tindakan korup, penjual yang tidak jujur dan bisnis gelap atu terlarang. Berbagai fenomena itu sebenarnya membutuhkan sebuah pelurusan dan pemenuhan hidup yang seimbang antara jasamani dan rohani agar mereka bisa menjalankan kehidupan sesuai dengan hakikat hidup yang sebenarnya.
Maka, sudah seharusnya masyarakat membangun kembali nilai-nilai spiritual dengan mempertebal visi tasawuf ke dalam kehidupan.
A.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan paparan penulis di atas, maka rumusan masalah yang dapat ditarik oleh penulis yaitu :
1.      Apa pengertian dari Tasawuf?
2.      Bagaiman tasawuf yang diajarkan oleh Rasulullah SAW?
3.      Seberapa pentingkah tasawuf di zaman modern?








BAB II
URGENSI TASAWUF DI ZAMAN MODERN

A.    Pengertian Tasawuf
Terdapat sejumlah teori yang berkaitan dengan pengertian tasawuf. Harun Nasution misalnya mengatakan  bahwa, teori yang banyak diterima adalah istilah itu berasal dari suf yaitu wol. Yang dimaksud bukanlah wol dalam arti modern, wol yang dipakai orang-orang kaya, tetapi wol primitif dan kasar yang dipakai di zaman dahulu oleh orang-orang miskin di Timur Tengah. Di zaman itu, pakaian kemewahan adalah sutera. Orang sufi ingin hidup sederhana dan menjauhi hidup keduniawian dan kesenangan jasmani, untuk itu mereka hidup sebagai orang miskin dengan memakai wol kasar tersebut.
Kata tasawuf berasal dari bahasa Arab tashawwafa yatashawwafu tashawwufan yang artinya bersih, murni, jernih. Pengertian ini mirip dengan kata zakka yuzakki tazkiyatan yang berarti membersihkan jiwa atau batin dari berbagai sifat yang buruk seperti takabur, syirik, dusta, fitnah, buruk sangka, berbuat dosa dan maksiat. Sifat ini berbeda dengan sifat thaharaf yang berarti membersihkan diri dari segi lahiriah dan fisik. Dengan demikian, kata tasawwuf mengacu pada dimensi batin (esoteric) manusia, sebagai lawan dari dimensi (exoteric) manusia. Dengan kedua dimensi ini diperbadingkan antara satu dengan yang lainnya, dalam pandangan tasawwuf ternyata dimensi batin jauh lebih utama. Hal ini sejalan dengan hadis yang artinya:
‘’Sesungguhnya Allah tidak akan menilai kepada jasad dan rupamu, tetapi Allah akan menilai hati dan amal perbuatanmu sekalian. ( HR. Ibnu Mubarak)[1]
Ada pula yang berpendapat dai perkataan ‘’shufanah’’, ialah sebagngsa kayu yang memersik tubuh di padang pasir tanah Arab. Terepi setengah ahli bahasa dan riwayat, terutama di zaman yang akhir ini mengatakan bahwa perkataan ‘’shufi’’ itu bukanlah bahasa Arab, tetapi Yunani yang lama telah diarabkan. Asalnya theosofie, artinya ‘’ilmu ketuhanan’’, kemudian diarabkan dan diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjdi’’tasauf’’.
Walapun dari mana asal kata itu, dari bahasa Arabkah, atau bahsa Yunani, namun dari asal-asal pengambilan itu sudah nyata bahwa yang dimaksud dengan kaum Tasauf, atau kaum’’shufi’’ itu ialah kaum yang menyisihkan diri dari orang banyak, dengan maksud membersihkan hati, laksana kilat kaca terhadap Tuhan, atau memakai pakaian yang sederhana, tidak menyerupai pakaian dunia, biar hidup kelihatan kurus kering bagi kayu di padang pasir, atau memperdalam penyidikan tentang perhubungan makhluk dengan Khaliknya. Seperti yang dimaksud oleh perkataan Yunani itu.
Tasauf adalah salah satu aliran filsafat yang maskudnya bermula ialah hendak zuhud dari dunia yang fana. Tetapi lantaran banyakanya campur gaul dengan negeri atau bangsa lain, banyak sedikitnya masuk jugalah pengaruh agama dari bangsa lain itu ke dalamnya.
Karena tasawuf bukanlah agama melainkan suattu ikhtiar yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula dengan tidak sadar, telah tergelincir dari agama atau terasa enaknya pengajaran agama lain dan terikut dengan tidak sengaja.
Ibnu Khaldun berkata:
‘’Tasawuf itu adalah semacam ilmu syariah yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya ialah bertekun beribadat dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah , hanya menghadao Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu mendaya orang banyak, kelezatan harta benda-benda dan kemegahan . Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadat’’
Demikianlah akalu kita dengarkan kupasan Ibnu Khaldun yang meneropong suatu perkara dari segi ilmu pengetahuan. Tetapi ahli-ahli tasawuf tasauf yang terbesar mempunyai pula kaidah-kaidah sendiri-sendiri tentang tasauf itu. ada yang berkata.
‘’Tasauf ialah memutuskan hubungandengan makhluk dan menjalon perhubungan dengan Khalik’’
Junaid berkata:
Tasauf ialah keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji’’
Yang paling hebat ialah menurut yang diartikan Al Hallaj. Seketika dia disalib dan menunggu ajal, sebab dia menyatakan bawa dirinya bersatu dengan Tuhan, maka ketika orang bertanya kepadanya:
‘’Diwaktu sekarang patut engaku berpesan kepada kami, apakah arti yang sejati dari tasauf itu?’’
Daerah telah titik dari tubuh dab dari dalam matanya, punggungnya telah hangus kena panas, hanya menunggu tubuhnya akan dipotong-potong. Waktu itu dia berkata, kata yang penghabisan:
‘’Tasauf ialah yang engkau lihat dengan matamu ini, inilah dia tasauf’’.[2]
Dari sejumlah pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tasawuf adalah usaha seseorang untuk dekat dengan Tuhannya dengan cara mensucikan diri, meninggalkan kehidupan dunia yang fana, menjauhi dosa atau maksiat dan segala bentuk perbuatan duniawi yang fana.
B.     Asal Usul Tasawuf
Berkaitan dengan asal usul timbulnya tasawuf terdapat berbagai teori yang dimajukan para ahli. Sebagaian ada yang berpendapat, bahwa tasawuf lahir dari luar islam dan sebagaian ada yang berpendapat bahwa tasawuf lahir dari kalangan islam sendiri.
Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar islam berpendapat bahwa tasawuf bersal dari kebiasan rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan materill. Ada pula yang mengatakan, bahwa tasawuf berasal dari filsafat Pythagoras dengan jarannya untuk meninggalkan kehidupan materill dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk ke islam atas pengaruh filsafat Plotinus. Menurut filasafat Plotinus, roh mancar dari zat Tuhandan kemudian akan kembali pada Tuhan. Tetapi dengan masuknya roh ke dalam alam materi, maka ia menjadi kotor dan untuk dapat kembali ke aslinya, ia harus terlebih dahulu disucikan. Tuhan Mahasuci dan Yang Mahasuci tidak didekati kecuali oleh orang yang suci. Penyucian roh terjadi dengan meninggalkan hidup kematerian dan dengan mendekatkan dirikepada Tuhan sedekat mumgkin; kalau bisa, bersatu dengan Tuhan semasih ada dalm hidup duniawi ini. Upaya ini dapat dilakukan dengan tasawuf.
Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf muncul dari dasar ajaran agama islam sendiri, antara lain terdapat dalam Al-Quran dan AL-Hadis. Di dalam Al-Quran ayat 168 surat al baqarah misalnya terdapat ayat yang menggambarkan tentang kedekatan manusia dengan Tuhan, yang berbunyi:
‘’Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka ( jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdosa apabila ia berdoa kepada-Ku. ( QS. Al-Baqarah(2): 186)
Selanjutnya, di dalam Hadis dinyatakan:
‘’Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Ku ciptakan makhluk dan mereka pun kenal kepada-Ku melalui diriku.’’( Hadis Qudsi).
Selain itu fakta juga menunjukan bahwa kebiasan menjauhkan diri dari pengaruh material dan duniawi sesungguhnya telah dijumpai dari kebiasan hidup nabi Muhammad SAW dan para sahabat.[3]
Di zaman Nabi, telah ada juga sahabat-sahabat yang menjauhkan diri dari hidup duniawi, banyak berpuasa di siang hari, dan bersalat serta membaca Al-Quran di malam hari, seperti Abdullah Ibn Umar, sehingga Nabi mengatakan kepadanya: ‘’Tubuhmu juga memiliki hak-hak yang harus kau penuhi.’’ Selain dari Abdullah Ibnu Umar disebut pula nama-nama Abu Darda, Abu Zar Al- Ghiffari, Bahlul Ibn Zuaib, dan Kahmas Al-Hilali.[4]
Berdasarkan keterangan tersebut, bahwa tasawuf dalam islam sungguhpun tanpa ada pengaruh dari luar, dapat muncul sendiri dari pengaruh ajaran islam sendiri. Selain itu, boleh jadi antara tasawuf dalam  islam dengan tasawuf di luar islam terdapat unsur persamaan atau terjadi titik singgung antara keduanya. Hal ini juga menunjukan, bahwa tasawuf adalah ajaran yang bersifat universal dan melekat pada diri manusia.Yakni, bahwa seluruh umat manusia memiliki potensi bertasawuf yang sama, yatiu potensi untuk mencari Tuhan, mengetahui, memahami, mendekati, memohon, menyayangi dan mencintainya. Potensi dalam bahasa Arab disebut qalb ( hati ), dzauq ( rasa ketuhanan ), ruh ( potensi ketuhanan ), sirr ( merasakan keberadaan Tuhan ), hubb ( perasaan cinta kepada Tuhan ).
 Namun demikian ekspresi atau bentuk ungkapan dari potensi ini berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Atas perbedaan ini, maka perbedaan secara lahiriah dalam tasawuf antara satu dengan lainnya tidak menjadi halangan.  Berinteraksi, dan membangun hubungan dan komunikasi yang intens melalui unsur persamaan antar keduanya. Dengan cara ini maka aliran tasawuf yang satu dan aliran tasawuf dengan yang lainnya akan saling bertemu. Di era globalisasi sekrang ini, pertemuan antara aliran tasawuf atau kerjasama yang hamonisasi merupakan sebuah keniscayaan.[5]
C.    Implementasi Tasawuf dalam Masyarakat Modern
Tasawuf merupakan sebuah sesuatu hal atau ajaran yang tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan, masyarakat ligkungan dan globalisasi. Agar manusia mampu berjalan di tengah arus globalisasi maka dia harus menumbukan kembali nilai-nilai ajaran spiritual agar terjadi keseimbangan dan hidup sehingga jiwanya tikak terguncang, stres, gundah, gelisah. Maka jiwa-jiwa masyarakat harus dibimbing untuk kembali kepada nilai-nilai ajaran spiritual dengan cara tasawuf.
Di zaman modern, terjadilah pergeseran dan perubahan implementasi  tasawuf karena sejumlah alasan misalnya, manusia yang harus terus mengikuti perkembangan zaman, memenuhi kewajibannya sebagai khalifah dan sebagainya. Maka dengan adanya konsep alasan tersebut Implementasi tasawuf sedikit lebih transformatif dengan tidak harus meninggalkan keduaniaan dengan sepenuhnya.
Tasawuf di zaman modern ini lebih ditekankan kepada misi trasendental yang harus ada dalam diri masyarakat. Sehingga setiap tindak-tandu masyarak  orientasinya untuk mendapat kebahagiaan di akhirat. Segala kehidupan di dunia merupakan manifestasi, dan jalan yang di tempuh untuk mendapat kebahagiaan di akhirat. Ada visi sufistik trasendental dalam perbuatannya, memprioritaskan kehidupan akhirat tanpa mengenyampngkan kehidupan dunia sebab zaman akan terus menuntut manusia untuk mengikutinya. Maka umat islam harus mengikuti menciptakan inovasi-inovasi baru untuk kemajuan islam itu sendiri.
Jadi tasawuf sekarang bisa di praktekan dengan cara mengerjakan kehidupan dunia sebagai hubungan baik dengan manusia ( hablumin an-nas ) akan tetapi di esensinya bernilai ibadah ( hablumin-llah) sehingga terjadi keseimbangan hidup.
D.    Pentingnya Tasawuf dalam Masyarakat Modern
Adapun pentingnya tasawuf dalam khidupan masyarakat modern antara la lain pertama, salah satu ciri khas mayarakat modern ialah terlalu mengandalkan kekuatan akal dan fisik, atau hanya mengakui sesuatu yang masuk akal dan tampak dalam pandangan yang selanjutnya melahirkan paham rasionalisme, empirisme, positivisme, sekuralisme, hedonisme, dan pragmatime. Paham yang denikian sangat merugikan keutuhan manusia sebgai makhluk hidup yang selain memiliki pancaakal dan pancaindra, juga memiliki hahwa nafsu, al-nafs, qalb, fuad, ruh, sirr, dzauq dan lainnya. Berbagi potensi rohaniah ini sesuatu yang real yakni ada dengan sesungguhnya, sebagaimana akal dan fisik. Akibat dari hidup yang hanya mengutamakn akal dan pancaindra ini maka manusia akan seperti robot., mesin yang hilang keutuhannya. Akibat dari keadaan yang demikian, manusia menjadi tidak utuh, merasa terasing, kesepian, rapuh, tidak punya pilihan dan pegangan hidup yang kokoh, yakni nilai-nilai spiritual yang berasal dari Allah SWT untuk menyelamatkan keadaan yang demikian perlu ajaran tasawuf.
Kedua, masyarakat modern yang bergerak di bidang jasa dan industri dengan berbagi aneka ragamnya semakin memerlukan nilai-nilai spiritualyang dapat memmberikan bekal dan peganagn yang kokoh bagi usahanya. Menjadi sufi di masa modern saat ini tidak mesti pergi bertapa ke gunung, atau mengisolasi diri ke tempat yang sunyi, atau membiarkan hidup miskin dan sengsara. Pandangan tasawuf seperti itu kini telah diganti dengan tasawuf yang tranformatif dan integrated, yaitu nilai-nilai tasawuf seperti kesederhanaan, kejujuran, kehati-hatian, kesabaran, keteguhan dalam prinsip, kepercayaan yang teguh kepada Tuhan. Keyakinan pada janji Tuhan dan nilai-nilai ajaran tasawuf lainnya ternyata sangat dibutuhkan dalam berbagai usaha bisnis di zaman modern.
Ketiga, ajaran selalu dekat dengan Allah SWT sebagaimana yang diajarkan dalama tasawuf dan kesungguhan dalam membersihkan diri dari dosa serta kesungguhan mencari keridhaan Allah SWT saat ini ternyata juga digunakan dalam prosesi penyembuhan berbagai penyakit. Masyarakat modern saat ini sudah mulai sadar bahwa diantara penyakit ada yang penyebabnya adalah karena hubungan yang tidak baik dengan Tuhan. Oleh karena itu proses penyembuhan dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah sebagaiman yang diajarkan tasawuf.
Keempat, jumlah orang yang gelisah, pikiran kacau stres dan gejala penyakit kejiwaan lainnya saat ini semakin banyak jumlahnya . Keadaan jiwa yang seperti itu mengakibatkan produktivitas kerja menurun dan ketentraman hidup semakin terancam. Masyarakat modern semacam itu semakin membutuhkan sentuhan rohani dan penncerahan spiritual yang dapat mengembalikan kehidupannya menjadi lebih nyaman, tenang, tentram, damai dan harmonis yang selanjutnya sangat amat dibutuhkan guna meningkaytkan produktivitasnya.[6]

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tasawuf adalah usaha seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mensucikan, membersihkan diri dari segala perbuatan doa dan meninggalkan kefanaan dunia. Sejumlah teori yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar islam misalnya dari kristen, menurutnya tasawuf berasal dari kebiasaan rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan materill. Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari filsafat Pythagoras dengan ajarannya meninggalkan kehidupan materill dan memsukan kehidupan kontemplasi. Selain itu juga ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari ajaran teori filsafat Plotinus yang mengatakan bahwa roh mencar dari zat Tuhan dan kemudian kembali pada Tuhan. Akan tetapi pada dasarnya tasawuf muncul dari ajaran islam itu sendiri, bukan dari ajaran luar islam.
Memasuki era globalisasi terjadilah transformatif pandangan tasawuf yang semula dengan cara mengisolasi diri ke tempat yang sunyi atau membiarkan hidup miskin. Namun di zaman modern tasawuf lebih integrated yaitu dengan menningkatkan nilai-nilai tasawuf seperti kesederhanaan, kejujuran, kesabaran, keteguhan prinsip, kepercayaan yang teguh terhadap Tuha. Tasawuf juga dapat dipraktekan dengan cara mengerjakan sesuatu yang dalam prakteknya merupakan menifestasi kehidupan akhirat, sehingga ada visi trasendental sufistik dalam pekerjaannya.
Masyarakat khususnya di daerah perkotaan telah kehilangan separuh dari hatinya, mereka sering mengalami depresi, keguncangan jiwa dan stres karena pengaruh persaingan global yang tidak dapat di hentikan. Agar masyarakat tidak mengalami kekosongan hati, kegelisahan dan gejala jiwa lainnya sudah seharusnya masyarakat kembali kepada nilai-nilai spiritual yaitu dengan cara tasawuf. Jadi tasawuf menjadi sangat penting di dalam setiap kemajuan zaman.   
B.     Saran
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami berharap semoga makalah ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi agar teman-teman bisa membuat makalah yang lebih sempurna.





DAFTAR PUSTAKA
Hamka. 1996. Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas.
            Nata, Abuddin. 2001. Studi Islam Komperhensif. Jakarta: Kencana.
            Nasution, Harun. 2002. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II. Jakarta: UI Press.




[1] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif, Jakarta: Kencana, 2001. halaman 314-315
[2] Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995. Halaman 1-3
[3] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif......hal 315-317.
[4] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya , jilid II. Jakarta: UI Press, 2002. Halaman 71.
[5] Abuddin Nata, Studi Islam Komperhensif... Hal 317-318.
[6] Abuddin Nata, Studi islam Komperhensif......halaman 329-330

Tidak ada komentar:

Posting Komentar