Senin, 06 Maret 2017

cerpen judul Ustad Dan Ular di Mulutnya



Ustadz dan Ular di Mulutnya


Siapa yang tidak kenal dengan ustadz ini, maka mereka adalah orang yang menutup telinga ketika suara toa ataupun sound berbunyi. Seperti halnya ustadz lainnya, dia adalah seorang ustadz yang sering mengisi berbagai acara pengajian di kampung.
Seorang ustadz yang disegani oleh masyarakat dan mempunyai nilai lebih di kalangan masyarakat. Dia terkenal dengan seorang ustadz yang ramah, murah senyum sekaligus suka bercanda dengan warga. Seorang ustadz yang tak begitu tinggi dengan badan yang sedikit menggumpal, jenggeot tak begitu tebal dan suaranya yang sedikit menggelegar. Suaranya telah menyebar melalui toa ataupun suond di mushola-mushola dan berbagai acara hajatan. Ustadz ini dapat dikatakan memiliki jam terbang yang cukup padat untuk berdakwah. Seperti kebanyakan tokoh masyarakat lainnya, suara dan tindakannya menjadi panutan ataupun contoh bagi masyarakat.
Aroma mulut sang ustadz yang mampu bertempat di hati pendengar ketika bersyiar dikhalayak umum. Aromanya pasti akan membekas dan selalu teringat oleh jamaah pengajian, siapapun pasti akan diam ketika dinasihiti ustadz yang memiliki ilmu lebih tinggi. Segala ucapan yang keluar dari mulutnya adalah ucapan yang mengandung barokah dan ilmu serta manfaat.
Masyarakt sangat menghormati, sangat ingin dekat dengannya sebagaimana dekat dengan orang shaleh. Sebab masyarakat tahu dari sang ustadz bahwa salah satu resep hidup bahagia adalah dekat dengan orang-orang yang shaleh. Masyarakat pun mau bekerja dengan ustadz tanpa harus meminta upah. Bagi masyarakat dekat dengan ustadz adalah sesuatu hal yang luar biasa sebab ketika seorang dekat orang shaleh maka orang tersebut akan ikut kecipratan barokahnya.
Terdengar suara sound yang diketuk tiga kali dengan pelan, suara menghetikan salah seorang pemuda yang menongkrong di warung kopi sembari bermain kartu. Pemuda menyuruh ketiga temannya untuk diam, menunggu kelanjutan suara dari toa yang diketuk. Empat pemuda yang di cap masyarakat sebagai pemuda nakal, suka membuat onar itu turut diam.
‘’Ah, paling cuma berita lelayu. Lanjut main!’’ ucap salah satu.
‘’Bukan, biasanya toa tidak diketuk seperti ini, pasti ada?’’
‘’Bodo aku tidak peduli suara siapa itu, berita apa itu bukan urusan kita, paling suara yang mau ganggu kita disini’’
Salah seorang pemuda menyenggol teman disampingnya sebab, melihat sang ustadz bersama rombongannya melintas dihadapan mereka. Semua melihat namun salah satu dari mereka berhenti menatap dan acuh terhadap ustadz, lalu mengajak untuk kembali bermain kartu namun teman-temannya tidak mau sebab sang ustadz akan melintas. Mereka berbisik kecil. Menunggu sang ustadz lewat.
Ustadz yang sudah naik haji tiga kali itu melintas dihadapan empat pemuda itu dengan gagah dan berwibawa. Sebagai seorang bajingan merekapun memegang prinsip untuk hormat kepada ustadz meskipun ucapan ustdaz tidak mereka lakukan tetapi di depan uatadz mereka akan menjaga sikap.
Ustadz berlalu dari hadapan, mereka saling menyinggung tanya. Sebagai ustadz yang besar, segala tindak-tanduknya, langkahnya pasti ingin diketahui oleh masyarakat.
‘’Mau kemana ustadz si ustadz?’’
‘’Mau ke dukun’’ semua yang berada di warung terkejut.
‘’Ustadz terkena guna-guna?’’
 ‘’Maksudmu ustadz kena santet? Kenapa setiap kali ia ceramah tidak pernah kelihatan wajah orang yang terkena santet?’’ balas salah satu sahabat.
‘’Tidak mungkin ustadz kena santet, dia kan orang yang memiliki ilmu tinggi, pasti dia juga punya ilmu untuk menangkal santet’’
‘’Jadi kalian tidak percaya dengan ucapanku? Begitulah kata tetanggaku’’
‘’Jelas tidak sebab aku tidak pernah melihat guna-guna yang ada di tubuh ustadz ketika ceramah, dan berita tentang itu hanya kau dan tetanggamu yang tahu’’
‘’Iya jelas kamu tidak pernah melihat, sebab guna-guna itu seakan telah menjadi sahabat ustadz, guna-guna itu pun tahu kapan waktunya keluar dan kapan waktunya bersembunyi, jika dia mengeluarkan diri didepan jamaah pasti semua jamaah kabur, dan ustadz itu tidak akan laku lagi, lalu anak istri ustadz mau dikasih makan apa?’’
‘’Kau berlebihan, nanti kau bisa kualat telah berperasangka buruk pada ustadz. Ingat dia ustadz yang hebat, sangat disegani warga, sudah haji berkali-kali dan tahun ini dia akan berangkat lagi. Konon ceritanya dia akan diiring sampai ke alun-alun dengan kuda. Dia juga sudah umrah berkali-kali dan doanya pasti di ijabah’’
‘’Omong kosong! Aku tidak berpersangka buruk aku bicara sesuatu yang benar. Meskipun aku jarang bertatap lima kali sehari dan di cap bajingan tapi aku tahu besarnya dosa memakai bangkai saudaranya sendiri’’
‘’Meskipun itu kebenaran tetap saja kita tidak boleh membicarakan orang lain bukan?’’
‘’Sepertinya kalian berdua seorang bajingan yang mempertimbangkan dosa dan pahala?’’ sambung salah satu dari mereka yang masuk dengan candanya. Namun perkataan tersebut tidak digubris oleh keduanya yang sedang berdebat.
‘’Kenapa aku mengatakan demikian tentang ustadz itu, sebab aku tidak ingin masyarakat terlalu menutup mata kepada salah seorang dan bersikap radikal, keras kepala bahwa apa yang keluar dari mulut ustadz itu adalah sebuah kebenaran sebab masyarakat disini mulai bertindak demikian’’
‘’Katakan saja kau iri dengan ustadz sehingga kau memperjelek image ustadz di mata masyarakat, kalau kau iri mengapa kau dulu tidak menjadi ustadz, mengapa kau memilih menjadi bajingan disini’’
‘’Kalau kamu terus membela ustadz itu kenapa kau menjadi bajingan disni, kenapa kau tidak ikut menjadi kacung ustadz itu’’ orang tersebut berdiri dan geram mereka berdua hampir saja berkelahi namun teman-temannya melerai.
‘’Kenapa kau mengatakan demikian tentang ustadz?’’ teman ketiga masuk bermaksud meluruskan perkara.
‘’Begini, kemaren malam aku melihat ustadz bersama dua orang pengawal datang kerumah kecil tepi jalan dengan diam-diam. Kau tahu itu rumah siapa? Itu adalah rumah orang tua yang miskin, memiliki lima orang anak dan keluarganya sedang dililit hutang, aku sangat tahu dengan keadaan perekonomian keluarga itu yang setiap hari untuk makan sulit ditambah lagi hutang yang mencekiknya. Aku pun terhenyuh melihat keadaan mereka. Ustadz itu datang dengan marah-marah kepada orang tua tersebut menagih hutang dengan nada yang tinggi. Ustadz itu mengatakan kepada orang tua.
’’Miskin selamanya akan tetap miskin tidak mungkin bisa kaya’’ orang tua itu hanya diam dan ustadz itu tidak mau tahu hutangnya harus dibayar bulan ini. Lalu si orang tua mengatakan bahwa dirinya belum punya uang untuk makan anak-anaknya sudah susah, akhirnya ustadz membalas’’aku tidak mau tahu, anak kamu mau kelaparan atau tidak itu bukan urusanku yang penting aku ingin hutang itu kau bayar’’ orang tua itu menangis dihadapan ustadz, dan istrinya menangsi didalam kamar, begitu pula dengan lima anaknya’’
‘’Lalu?”
‘’Pada intinya begitu jadi setiap kata yang keluar dari ustadz malam itu penuh dengan hinaan, aku yang tidak menerima omongan dari sang ustadz pun turut merasakan betapa pedihnya hinaan yang keluar dari mulut ustdaz. Sang ustadz pun mengancam bahwa dirinya akan menyita rumah orang tua tersebut jika akhir bulan ini hutang belum dilunasi. Namun lelaki tua itu hanya diam sebab dia terjepit diantara permasalahan yang menyulitkan lalu ustadz berkata.
’’Kau akan diam, dan kau hanya bisa diam sekalipun aku membunuhmu, kau akan diam dan pasrah’’ sungguh aku bisa merasakan jika aku masuk ke rumah itu, aku akan tenggelam dalam air mata membanjiri rumah kecil itu, sakit menumbuk hati penghuni rumah kecil itu, dan masih banyak lainnya’’
‘’Aku tidak percaya ustadz mengatakan demikian!’’
‘’Kalau kau tidak percaya, orang itu masih hidup. Mari aku antar kau kerumah orang itu agar percaya dengan perkataanku!’’
‘’Baik!’’ balas lawan bicaranya dengan nada yang menantang.
Kemudaia keempat pemuda itu berjalan bersama menuju rumah orang tua di tepi jalan untuk mendapat keterangan  langsung dari orang tua itu(***) Kebumen (30/6/15) Akhsin Fuadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar