Ustadz
dan Ular di Mulutnya
Siapa
yang tidak kenal dengan ustadz ini, maka mereka adalah orang yang menutup
telinga ketika suara toa ataupun sound berbunyi. Seperti halnya ustadz lainnya,
dia adalah seorang ustadz yang sering mengisi berbagai acara pengajian di
kampung.
Seorang
ustadz yang disegani oleh masyarakat dan mempunyai nilai lebih di kalangan
masyarakat. Dia terkenal dengan seorang ustadz yang ramah, murah senyum
sekaligus suka bercanda dengan warga. Seorang ustadz yang tak begitu tinggi
dengan badan yang sedikit menggumpal, jenggeot tak begitu tebal dan suaranya
yang sedikit menggelegar. Suaranya telah menyebar melalui toa ataupun suond di
mushola-mushola dan berbagai acara hajatan. Ustadz ini dapat dikatakan memiliki
jam terbang yang cukup padat untuk berdakwah. Seperti kebanyakan tokoh
masyarakat lainnya, suara dan tindakannya menjadi panutan ataupun contoh bagi
masyarakat.
Aroma
mulut sang ustadz yang mampu bertempat di hati pendengar ketika bersyiar
dikhalayak umum. Aromanya pasti akan membekas dan selalu teringat oleh jamaah
pengajian, siapapun pasti akan diam ketika dinasihiti ustadz yang memiliki ilmu
lebih tinggi. Segala ucapan yang keluar dari mulutnya adalah ucapan yang
mengandung barokah dan ilmu serta manfaat.
Masyarakt
sangat menghormati, sangat ingin dekat dengannya sebagaimana dekat dengan orang
shaleh. Sebab masyarakat tahu dari sang ustadz bahwa salah satu resep hidup
bahagia adalah dekat dengan orang-orang yang shaleh. Masyarakat pun mau bekerja
dengan ustadz tanpa harus meminta upah. Bagi masyarakat dekat dengan ustadz
adalah sesuatu hal yang luar biasa sebab ketika seorang dekat orang shaleh maka
orang tersebut akan ikut kecipratan barokahnya.
Terdengar
suara sound yang diketuk tiga kali dengan pelan, suara menghetikan salah seorang
pemuda yang menongkrong di warung kopi sembari bermain kartu. Pemuda menyuruh
ketiga temannya untuk diam, menunggu kelanjutan suara dari toa yang diketuk.
Empat pemuda yang di cap masyarakat sebagai pemuda nakal, suka membuat onar itu
turut diam.
‘’Ah,
paling cuma berita lelayu. Lanjut main!’’ ucap salah satu.
‘’Bukan,
biasanya toa tidak diketuk seperti ini, pasti ada?’’
‘’Bodo
aku tidak peduli suara siapa itu, berita apa itu bukan urusan kita, paling
suara yang mau ganggu kita disini’’
Salah
seorang pemuda menyenggol teman disampingnya sebab, melihat sang ustadz bersama
rombongannya melintas dihadapan mereka. Semua melihat namun salah satu dari
mereka berhenti menatap dan acuh terhadap ustadz, lalu mengajak untuk kembali
bermain kartu namun teman-temannya tidak mau sebab sang ustadz akan melintas.
Mereka berbisik kecil. Menunggu sang ustadz lewat.
Ustadz
yang sudah naik haji tiga kali itu melintas dihadapan empat pemuda itu dengan
gagah dan berwibawa. Sebagai seorang bajingan merekapun memegang prinsip untuk
hormat kepada ustadz meskipun ucapan ustdaz tidak mereka lakukan tetapi di
depan uatadz mereka akan menjaga sikap.
Ustadz
berlalu dari hadapan, mereka saling menyinggung tanya. Sebagai ustadz yang
besar, segala tindak-tanduknya, langkahnya pasti ingin diketahui oleh
masyarakat.
‘’Mau
kemana ustadz si ustadz?’’
‘’Mau
ke dukun’’ semua yang berada di warung terkejut.
‘’Ustadz
terkena guna-guna?’’
‘’Maksudmu ustadz kena santet? Kenapa setiap
kali ia ceramah tidak pernah kelihatan wajah orang yang terkena santet?’’ balas
salah satu sahabat.
‘’Tidak
mungkin ustadz kena santet, dia kan orang yang memiliki ilmu tinggi, pasti dia
juga punya ilmu untuk menangkal santet’’
‘’Jadi
kalian tidak percaya dengan ucapanku? Begitulah kata tetanggaku’’
‘’Jelas
tidak sebab aku tidak pernah melihat guna-guna yang ada di tubuh ustadz ketika ceramah,
dan berita tentang itu hanya kau dan tetanggamu yang tahu’’
‘’Iya
jelas kamu tidak pernah melihat, sebab guna-guna itu seakan telah menjadi
sahabat ustadz, guna-guna itu pun tahu kapan waktunya keluar dan kapan waktunya
bersembunyi, jika dia mengeluarkan diri didepan jamaah pasti semua jamaah
kabur, dan ustadz itu tidak akan laku lagi, lalu anak istri ustadz mau dikasih
makan apa?’’
‘’Kau
berlebihan, nanti kau bisa kualat telah berperasangka buruk pada ustadz. Ingat
dia ustadz yang hebat, sangat disegani warga, sudah haji berkali-kali dan tahun
ini dia akan berangkat lagi. Konon ceritanya dia akan diiring sampai ke
alun-alun dengan kuda. Dia juga sudah umrah berkali-kali dan doanya pasti di
ijabah’’
‘’Omong
kosong! Aku tidak berpersangka buruk aku bicara sesuatu yang benar. Meskipun
aku jarang bertatap lima kali sehari dan di cap bajingan tapi aku tahu besarnya
dosa memakai bangkai saudaranya sendiri’’
‘’Meskipun
itu kebenaran tetap saja kita tidak boleh membicarakan orang lain bukan?’’
‘’Sepertinya
kalian berdua seorang bajingan yang mempertimbangkan dosa dan pahala?’’ sambung
salah satu dari mereka yang masuk dengan candanya. Namun perkataan tersebut
tidak digubris oleh keduanya yang sedang berdebat.
‘’Kenapa
aku mengatakan demikian tentang ustadz itu, sebab aku tidak ingin masyarakat
terlalu menutup mata kepada salah seorang dan bersikap radikal, keras kepala
bahwa apa yang keluar dari mulut ustadz itu adalah sebuah kebenaran sebab
masyarakat disini mulai bertindak demikian’’
‘’Katakan
saja kau iri dengan ustadz sehingga kau memperjelek image ustadz di mata masyarakat, kalau kau iri mengapa kau dulu
tidak menjadi ustadz, mengapa kau memilih menjadi bajingan disini’’
‘’Kalau
kamu terus membela ustadz itu kenapa kau menjadi bajingan disni, kenapa kau
tidak ikut menjadi kacung ustadz itu’’ orang tersebut berdiri dan geram mereka
berdua hampir saja berkelahi namun teman-temannya melerai.
‘’Kenapa
kau mengatakan demikian tentang ustadz?’’ teman ketiga masuk bermaksud
meluruskan perkara.
‘’Begini,
kemaren malam aku melihat ustadz bersama dua orang pengawal datang kerumah
kecil tepi jalan dengan diam-diam. Kau tahu itu rumah siapa? Itu adalah rumah
orang tua yang miskin, memiliki lima orang anak dan keluarganya sedang dililit
hutang, aku sangat tahu dengan keadaan perekonomian keluarga itu yang setiap
hari untuk makan sulit ditambah lagi hutang yang mencekiknya. Aku pun terhenyuh
melihat keadaan mereka. Ustadz itu datang dengan marah-marah kepada orang tua
tersebut menagih hutang dengan nada yang tinggi. Ustadz itu mengatakan kepada
orang tua.
’’Miskin
selamanya akan tetap miskin tidak mungkin bisa kaya’’ orang tua itu hanya diam
dan ustadz itu tidak mau tahu hutangnya harus dibayar bulan ini. Lalu si orang
tua mengatakan bahwa dirinya belum punya uang untuk makan anak-anaknya sudah susah,
akhirnya ustadz membalas’’aku tidak mau tahu, anak kamu mau kelaparan atau
tidak itu bukan urusanku yang penting aku ingin hutang itu kau bayar’’ orang
tua itu menangis dihadapan ustadz, dan istrinya menangsi didalam kamar, begitu
pula dengan lima anaknya’’
‘’Lalu?”
‘’Pada
intinya begitu jadi setiap kata yang keluar dari ustadz malam itu penuh dengan hinaan,
aku yang tidak menerima omongan dari sang ustadz pun turut merasakan betapa
pedihnya hinaan yang keluar dari mulut ustdaz. Sang ustadz pun mengancam bahwa
dirinya akan menyita rumah orang tua tersebut jika akhir bulan ini hutang belum
dilunasi. Namun lelaki tua itu hanya diam sebab dia terjepit diantara permasalahan
yang menyulitkan lalu ustadz berkata.
’’Kau
akan diam, dan kau hanya bisa diam sekalipun aku membunuhmu, kau akan diam dan
pasrah’’ sungguh aku bisa merasakan jika aku masuk ke rumah itu, aku akan
tenggelam dalam air mata membanjiri rumah kecil itu, sakit menumbuk hati
penghuni rumah kecil itu, dan masih banyak lainnya’’
‘’Aku
tidak percaya ustadz mengatakan demikian!’’
‘’Kalau
kau tidak percaya, orang itu masih hidup. Mari aku antar kau kerumah orang itu
agar percaya dengan perkataanku!’’
‘’Baik!’’
balas lawan bicaranya dengan nada yang menantang.
Kemudaia
keempat pemuda itu berjalan bersama menuju rumah orang tua di tepi jalan untuk
mendapat keterangan langsung dari orang tua itu(***) Kebumen (30/6/15) Akhsin
Fuadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar