Berita seputar politik, pendidikan, budaya dan sosial serta hiburan, gaya hidup, kesehatan, musik, dan informasi mengenai kehidupan sehari-sehari dari seluruh penjuru dunia disajikan dalam blog ini. Selamat Menikmati
Jumat, 19 Agustus 2016
puisi mimpiku
Aku bermimpi
Begitukah nanti akhirnya
Diri mempersunting gadis kota
Asoy, habislah aku dalam pusara cinta
Sulit dibayangkan jadinya si gadis kota
Bibir merah merekah, tubuh padat berisi
Pinggul menyimpul dada menyembul
Asoy, matilah aku dalam kebuasan
Adakah yang lebih indah di pandang?
Dari gunung yang berjajar di atas lautan
Adakah yang lebih manis di teguk
Dari susu yang di perah sebelum basi
Jumat, 22 Juli 2016
Lilin dan Sedahan Api
Malam
itu datang tidak begitu sempurna. Sang rembulan enggan keluar dari sarangnya, hitam
legam tanah ini tanpa sinarnya, sungguh malam minggu yang tak pernah ia damba kehadirannya.
Ia menelanjangi langit, tiada satupun titik cahaya yang tergores di langit
utara. Hanya ada dua bercak cahaya dan itupun jauh diujung sana yang katanya
langitnya dewa dewi. Angin berhembus kencang menyisir pepohonan disepanjang
jalan desa, ia merasa sebatang lilin yang akan menemani di kegelapan malam ini
saat ayah dan ibunya pergi keluar kota.
Sejak
pagi listrik di desa mati, tiada kabar yang yang terbang menghampiri telinganya
tentang kapan listrik di desanya hidup
lagi. Ia hanya berharap kegelapan cepat berakhir, sebab ia takut akan
kegelapan. Ia hanya duduk tenang didalam kamar menemani cahaya lilin yang
menjadi sumber penerangan. Ia lindungi api dengan kedua tangan. Ia tidak bisa
bayangkan jikalau lilin dihadapannya mati ditengah kegelapan. Kemana aku harus
berlari mengemis sebatang korek api dan lilin sedangkan di warung sudah habis
semua karena kabarnya pemadaman listrik akan lama. Bilapun aku harus beli
sangat jauh dari rumahku. Meskipun dekat akupun takut untuk keluar rumah karena
diluar sana sedang terjadi pertikaian alam. Pertiikaian itu tampak dari langit
yang sangat hitam, rembulan yang tidak ingin keluar, angin berhembus kencang
dan sebentar lagi hujan datang turut memanaskan pertikaian alam malam ini.
Ditengah
suasana alam yang membungkam bisu tubuh ini, seorang lelaki datang
menggedor-nggedor pintu rumah. Suara itu mengejutkan aku. Seakan menghentikan
aliran darah di kepalaku, membuat kepala ini terasa berat dan kaku. Tubuh ini
bergetar, diri ini takut, berulangkali gedoran pintu itu kudengar semakin
kudiamkan semakin keras suara gedoran pintu kudengar. Terpaksa kubukakan pintu
untuk orang yang menyebalkan meskipun aku belum tahu siapa orang itu.
‘’Mas
Bayu….!’’
‘’Silahkan
masuk Mas….’’
Mas
Bayu datang dengan baju yang basah kering, Dia adalah sahabat kakaku yang telah
meninggal dua tahun silam karena kecelakaan di perempatan jalan menuju pusat
perkotaan. Mereka berdua bersahabat sangat kental. Didalam kamar almarhum
kakaku masih tertempel foto kebersamaan mereka mengenakan baju relawan saat
membantu korban bencana di pulau seberang. ‘’Ngomong-ngomong ada keperluan apa
Mas Bayu datang kerumah Sukma,?” Mas Bayu mau menyampaikan pesan dari ibumu,
tadi ibumu menelpon kamu katanya handphone kamu tidak aktif, lalu ibumu
menitipkan pesan bahwa kepulangannya ditunda tiga hari lagi’’. Mengapa ibu
selalu menunda kepulangannya ,apakah ibu sudah mulai lupa dengan anak
perempuannya dirumah?’’ bisik hati yang kecewa.
‘’Mas
Bayu mau bantuin Sukma nggak ?‘’
‘’Sebisaku
‘’
‘’Beneran
?’’ Dia mengangguk.
‘’Tolong
Sukma belikan lilin dan korek api, Sukma takut mau keluar disepanjang jalan
hanya ada kegelapan,dan angin yang mengerikan”.Dia tersenyum dan tertegun
beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah kata yang dia tinggalkan untuku,
yang katanya ingin membantuku. Menyebalkan.
Kututup
pintu dan kukunci rapat-rapat, aku kembali ke kamar kembali bertatap wajah
dengan cahaya api dari sebatang lilin yang tinggal lima senti. Resah, gelisah
tanpa arah, takut masih berselimut dan bahkan bertambah takut karena lilin akan
mati kurang lebih dalam waktu lima menit lagi. Keresahan ini semakin
bertambah,dan akhirnya sebatang lilin itu habis, kini gelaplah sudah rumahku.
Aku hanya mampu berharap listrik hidup lagi.
Kudengar
lagi suara gedoran pintu rumah, dia menggedor-nggedor pintu dengan keras. Aku hiraukan
orang yang menggedor-nggedor pintu itu.
’’
Siapa orang yang menggedor-nggedor pintu itu, kenapa dia menggedor dengan keras
sekali, jangan-jangan dia perampok yang masuk kerumah pak Sobin, dan melukai
anak pak Sobin dengan pedangnya yang panjang dan tajam, apakah dia juga akan
merampok rumahku yang isinya hanya televisi hitam putih berukuran dua belas
inci, kursi yang terbuat dari kayu zaman dahulu, radio kecil kesayangan ayah,
jam dinding yang dilapisi kuningan warisan dari orang tua ayah , atau bahkan
dia akan melukai aku, lalu apa salahku
sehingga dia datang dengan misi ingin melukaiku?’’.Tanya hatiku yang
menerpa-nerpa.
‘’Buka
pintunya…!’’ teriak lelaki itu dengan keras, sepertinya dia marah karena tidak
kubukakan pintu’’.
Kutekadkan
diri untuk membuka pintu, apapun yang terjadi nanti kuserahkan kepada yang maha
berkehendak, aku berjalan membawa apapun yang bisa kugunakan untuk melidungi
diri ini.
Ckliiik.Terdengar
suara pintu yang kubuka, sebuah cahaya merah menyinari wajahnya hampir saja ku
memukulnya dengan kayu yang kubawa.Mas Bayu datang lagi dengan bajunya yang
basah semua. “Ada apa lagi kamu datang kemari..pulang sana ..!’’.Saya hanya mau
mengantarkan apa yang kamu minta tadi,’’ Mas Bayu datang dengan membawa lilin
dan korek api.Aku terbungkam dan merasa malu kepada Mas Bayu.
‘’Iya
sudah saya pulang dulu “ pamitnya tanpa basa-basi.
Dia
pergi dari rumahku diikuti hembusan angin yang meruntuhkan dedaunan yang sedang
bercengkraman. Selang lima menit Dia lepas dari rumahku, kudengar suara burung
gagak bersahutan diatap rumah dan hembusan angin yang membawa aura mistis.
Menurut cerita orang-orang di desaku, suara burung gagak menandakan akan adanya
kematian. Kedatangannya menyebarkan berita bahwa aka ada duka di daerah
tersebut. Suaranya yang serak mengerikan, melayang-layang di malam hari
membawaku dalam dunia mistis. Sesungguhnya aku tidak ingin mempercayai hal itu,
namun sulit bagiku untuk hidup menerjang cerita yang telah turun-menurun dan
dipercayai oleh orang-orang.
Aku
menebak-nebak. Kalau suara burung gagak tadi menyebarkan berita akan kematian,
lalu siapa yang akan pergi meninggalkan tanah ini ?. Aku, Ibu, Ayah, atau
bahkan Dia ?, semoga bukan diantara kita berempat’’. Pintaku dalam hati. Aku
tidak bias tidur semalaman karena rasa takut yang terus menyelimuti hati ini.
Aku bagaikan wanita penunggu malam dalam sunyi kegelapan dan ketakutan.Hingga
pagi menjelang mata ini masih terbuka, hingga mulai tampak dari wajahku mata
merah dan kusam pucat karena kurang tidur.
Satu
bulan kemudian Dia datang kembali kerumahku menanyakan lilin dan korek api yang
dia berikan untuku di malam itu. Namun aku sudah lupa dengan kedua benda
tersebut karena setelah hari itu sudah tidak ada lagi pemadaman listrik. Dia
juga berpamitan kepadaku dan kedua orang tuaku bahwa Dia akan pergi keluar kota
membantu korban bencana. Ku jawabnya dengan menganggukan kepala.
Tepat
jam tiga sore dia akan berangkat, Aku menemuinya di perempatan jalan menuju
perkotan, tempat ini pun banyak menyimpan kisah. Aku tatap wajahnya berseri-seri.
Tutur katanya menyejukan hati, dan senyumannya seakan mengisyaratkan sebuah
janji bahwa dia akan kembali lagi. Hari ini kulihat Dia sangat berbeda dari
hari yang lalu, auranya lebih terpancar ,seperti kulihat cahaya putih keluar
dari pori-pori tubuhnya. Dulu sebelum dia berangkat bersama kakaku disinilah
aku sering ikut mengantarkan mereka, lalu aku
tidak pernah lupa berpesan kepadanya “ jagalah kakaku ‘’ namun tanpa aku
bicara hal itu dia juga sudah mengatakan kepadaku “Aku akan menjaga kakakmu “.
Dia juga berkata kepadaku “ jagalah lilin dan korek api yang kuberi karena aku akan kembali lagi
untuk menanyakan itu ‘’.
Sesungguhnya
aku ingin bersalaman dengannya, namun ayah dan ibu selalu melarangku untuk itu.
Aku hanya bisa memandang dan menatap matanya yang perlahan mengecil seakan
menandakan dia masih memendangku lebih lama. Akan tetapi waktu selalu hadir
dengan keluguan dan kejujurannya, kulihat dirinya semakin mengecil bersama
mobil bak yang dinaikinya. Hingga akhirnya tikungan diujung sana menghilangkan
pandanganku kepadanya. Ibu mendekati aku dan berbisik kepadaku.
#Sepulangannya
nanti Dia akan meminangmu’’
Langganan:
Postingan (Atom)