Menjelang
Fajar
‘’Ayah,
dimana ayah? Ibu,?’’
Gadis kecil itu terbangun, menangis di
sepertiga malam memanggil ayah dan ibunya. Seketika kesedihan menyeruak dan
mulutnya terkatup, dalam kepalanya terlintas tentang ibu yang telah pulang
kerumahNya.
Ia terdiam. Terbesit peristiwa beberapa minggu lalu.
Matanya
menyorot tajam meja hitam di bawah tirai jendela. Sepucuk surat yang ia tulis
semalam masih utuh. Sebelum ia tidur, ia selalu menulis surat yang dibekali
doa-doa. Dibungkus amplop hitam lalu meletakannya di atas meja bawah jendela. Ia
tak pernah menutup jendela kamarnya. Karena, ia berharap malaikat malam masuk ke kamarnya dan
pulang membawa sepucuk surat yang ia
tulis untuk ibunya. Ia
yakin bahwa ibu disana berada bersama ribuan malaikat yang menemaninya.
‘’Mengapa
suratku untuk ibu belum ia bawa” gumamnya khawatir.
’’Ah,
mungkin ia belum sempat mampir kekamarku, atau mungkin ia masih ingin jalan-jalan
di atas muka bumi ini, atau bahkan ia belum sampai sini sebab, ia juga harus
mengambil surat-surat di tempat lain’’ ia menghibur dirinya.
’’
Semoga ia cepat datang’’ harap gadis kecil itu.
Mata
polosnya mengedar, tangan kecilnya menengedah dan mulut mungilnya bergeming
mengucap doa. Ia kembali menarik selimut ke tubuhnya dan terbaring meneruskan mimpinya.
Tapi, ia teringat peristiwa pencurian dirumah Bibil. Ia
masih berjuang untuk tidak mengingatnya.
Seketika
angin berhembus kencang, masuk melalui tirai jendela yang selalu terbuka. Ia
kembali membuka matanya.
’’Pasti
itu hembusan angin dari malaikat yang akan membawa suratku untuk ibu’’ ia
tersenyum dalam balutan selimut.
Ia tersenyum senang, namun rasa penasaran itu datang. Didalam
benaknya menggunjing tanya tentang sosok malaikat yang baginya baik hati ingin
membawakan surat untuk ibunya.
’’
Berbaju putih atau hitam, pasti ia bersayap dan wajahnya bersinar terang’’
gumamnya. Ia penasaran ingin menatap
wajahnya lalu menyampaikan kata’’ terima kasih ‘’ kepada malaikat yang membawakan suratnya untuk ibun.
‘’Ah,
sebaiknya jangan, nanti kalau aku melihatnya pasti dia akan malu dan pergi
tidak membawa suratku untuk ibu’’gumamnya masih masih dalam balutan selimut. Ia
sangat ingin berbincang-bicang dengan malaikat yang membawakan surat untuk
ibunya. Bertanya tentang kabar ibu dirumahNya, yang menurutnya seperti istana
besar di negeri yang belum pernah ada.
Baginya,
negeri itu terbang, semua istana berjajaran, pohon-pohon berdaun kuning emas,
disana tidak ada pencurian,
pembunuhan dan segala bentuk kejahatan. Disana tidak ada permusuhan dan tidak ada yang saling
menggunjing. Disana ada manusia bersayap, baginya seperti bidadari yang
digambarkan ibunya sebelum pergi. Dalam balutan selimut ia berkata bahwa ia
ingin melihat rumahNya.
Ia kembali teringat darah yang mengalir dalam peristiwa
pencurian dirumah Bibil. Ia mencoba untuk tidak menggubris peristiwa itu namun,
ia tidak bisa melupakan. Peristiwa itu terus hidup dikepalanya.
“Andai ibu masih berada disini pasti cerita itu akan
lebih indah?’’ gemingnya yang mendambakan kehadiran ibu.’’Tuhan, izinkan aku
melihat ibu, ibu itu baik, ibu itu nggak dosa. Tuhan Engkau pasti tahu, ibu
yang mengenalkanku kepadaMu, ibu yang mengajari aku shalat, dan ibu yang
mengajri aku ngaji. Ibu yang mengajari aku menghafal surat al-fatihah. Ibu yang
mengajri aku tentang huruf alif.’’
Huruf alif, huruf yang paling benar diantara semua
huruf hijaiyah, ia lurus tunggal dan
satu, yang melukiskan diriMu. Ia berada di depan mengapa? Sebab agar manusia
dengan cepat mengenalnya dan manusia mengetahui bahwa diriMu yang pertama.
Namun bagiku letak huruf pertama itu sebuah simbol dariMu sebab langkah pertama
manusia di dunia adalah mengenal Tuhan yang tak jauh adalah Engkau.
‘’Tuhan, aku tahu Engkau tidak tidur, Engkau pasti sedang
mendengarkanku. Oh ya Tuhan, Engkau pasti melihat peritiwa pencurian dirumah
Bibil, mengapa Engkau ambil ayah Bibil, bukankah Engkau tahu bahwa ayah Bibil
adalah orang yang baik’’ ia berpikir bahwa orang-orang baik satu perlahan-lahan
habis.
‘’Satu catatan lagi Tuhan, ibu yang mengajari aku tentang
nama-nama agungMu, ibu juga yang mengajari aku untuk mencintai kekasihMu, dan
ibu yang?’’
Praaakk. Terdengar suara pintu yang dibanting dari arah
dapur. Ia teriak memanggil ayahnya. Ia berlari memeluk tubuhn ayahnya. Mata ayahnya
masih sembirat merah, sebab ayahnya pun baru saja pulang tengah malam tadi
ketika ia sedang tertidur pulas. Mungkin ia tidak tahu bahwa kesepulangan
ayahnya tadi, membawakan beberapa gorengan ubi yang mungkin sekarang sudah basi.
‘’Kenapa Nak?’’ tanya ayahnya yang setengah sadar.
‘’Di dapur ada pencuri, dia pencuri yang masuk kerumah
Bibil dan membunuh ayah Bibil malam itu’’ ucapnya dengan wajah yang trauma.
‘’Emang kau tahu wajah pencuri yang masuk kerumah
Bibil?’’
‘’Iya, aku tahu!’’
‘’Kamu mau menjelaskan untuk ayah?’’
‘’iya. Malam itu ayah bilang tidak akan pulang, setelah
aku selesai menulis surat utuk ibu, lalu aku memutuskan untuk belajar dirumah
Bibil. Ibunya Bibil meminta aku untuk tidur dirumahnya sebab aku sudah
memberitahu tentang ayah yang tidak pulang malam itu. Namun, ditengah diriku yang sedang tertidur ada yang
mendobrak pintu dapur rumah Bibil. Aku mendengarnya, jantungku seakan berhenti
berdegup. Darah ini membeku, kepala ini kaku dan aku melihat tiga pencuri itu, aku
memutuskan untuk bersebunyi dibawah kolong meja makan bundar didapur rumah Bidil. Dua pencuri itu
membawa samurai, dan yang satunya membawa pistol’’ ayahnya semakin memasang
wajah serius.
‘’Lalu ?’’
‘’Berulangkali pencuri itu melepas tembakan sebagai
peringatan pada ayah Bibil agar tidak melawan namun, ayah bibil memang orang
yang keras kepala, apalagi ia tahu hartanya akan diambil pencuri. Ayah Bibil
melawan dengan beberapa jurus silat yang ia punya. Satu pencuri dapat
dikalahkan oleh jurus silat kera putih, dan satunya lagi dikalahkan dengan
jurus macan kumbang’’ ayahnya mengkernyitkan dahi.
‘’Ayah, tidak percaya?’’
‘’Ayah belum selesai mendengar ceritamu Nak’’
‘’Ayahnyna Bibil sanagat murka malam itu, namun jurus
silatnya yang ketiga tidak mampu menghindarkan ayahnya Bibil dari butir peluru
yang dilepaskan oleh pencuri. Butir timah panas itu berhasil melubangi jantung
ayah Bibil. Dua buah suara letupan senjata itu membangunkan ayam-ayam di kampung.
Bibil dan ibunya berteriak dari dalam kamar karena pencuri itu menyekapnya’’
‘’Jadi kamu telah mengetahui kronologis peristiwa itu’’
‘’Iya’’
‘’Namun kau sudah terlambat Nak?’’
‘’Belum!’’
‘’Malam itu, aku melihat darah ayah Bibil mengalir deras
dengan cepat membeku seperti darah kambing yang baru disembelih.
‘’Apa yang diambil oleh pencuri itu?’’
‘’Mereka membobol brangkas, namun mereka tidak sedikitpun
mengambil uang dan perhiasan yang ada didalamnya. Mereka mengobrak-abrik semua
isi lemari namun mereka tidak mengambil sesuatu apapun yang ada dilemari.
Mereka menyerlorotlkan semua laci namun tidak mengambil surat-surat penting didalamnya.
Mereka melihat lukisan dan benda-benda antik yang memiliki nilai jual sangat tinggi namun mereka
hanya melengeuh sial’’
‘’Lalu apa yang mereka ambil?’’
‘’Mungkin mereka hanya maling musiman atau maling yang
hanya mengikuti trend , atau sedang naik daun. Sebab ia hanya mengambil dua
buah cincin akik yang terpasang dijari ayah Bibil. Untung mereka tidak
mengambil blackberry atau gandget ayah Bibil yang bisa mereka gunakan untuk
bbm, face book, twiter, instagram dan banyaklah yang aku tidak tahu namanya’’
‘’Di dapur tadi, bukan suara maling tapi suara kucing”
‘’Benarkah, coba ayah tengok?’’ pintanya yang ketakutan.
Ayahnya berjalan, langkah demi langkah diletakan dengan
sangat pelan hingga tak dilihatnya lagi oleh mata gadis kecil itu. Gadis kecil
itu menunggu ayahnya kembali. Seketika ayahnya berteriak kencang.
“Ayah!’’ teriak gadis kecil itu, setelah teriakannya
semua lampu dirumahnya mati....(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar