Minggu, 12 Februari 2017

cerpen kernduan- Menjelang Fajar



Menjelang Fajar
‘’Ayah, dimana ayah? Ibu,?’’
 Gadis kecil itu terbangun, menangis di sepertiga malam memanggil ayah dan ibunya. Seketika kesedihan menyeruak dan mulutnya terkatup, dalam kepalanya terlintas tentang ibu yang telah pulang kerumahNya.
 Ia terdiam. Terbesit peristiwa beberapa minggu lalu. Matanya menyorot tajam meja hitam di bawah tirai jendela. Sepucuk surat yang ia tulis semalam masih utuh. Sebelum ia tidur, ia selalu menulis surat yang dibekali doa-doa. Dibungkus amplop hitam lalu  meletakannya di atas meja bawah jendela. Ia tak pernah menutup jendela kamarnya. Karena, ia berharap malaikat malam masuk ke kamarnya dan pulang  membawa sepucuk surat yang ia tulis untuk ibunya. Ia yakin bahwa ibu disana berada bersama ribuan malaikat yang menemaninya.
‘’Mengapa suratku untuk ibu belum ia bawa” gumamnya khawatir.
’’Ah, mungkin ia belum sempat mampir kekamarku, atau mungkin ia masih ingin jalan-jalan di atas muka bumi ini, atau bahkan ia belum sampai sini sebab, ia juga harus mengambil surat-surat di tempat lain’’ ia menghibur dirinya.
’’ Semoga ia cepat datang’’ harap gadis kecil itu.
Mata polosnya mengedar, tangan kecilnya menengedah dan mulut mungilnya bergeming mengucap doa. Ia kembali menarik selimut ke tubuhnya dan terbaring meneruskan mimpinya. Tapi, ia teringat peristiwa pencurian dirumah Bibil. Ia masih berjuang untuk tidak mengingatnya.
Seketika angin berhembus kencang, masuk melalui tirai jendela yang selalu terbuka. Ia kembali membuka matanya.
’’Pasti itu hembusan angin dari malaikat yang akan membawa suratku untuk ibu’’ ia tersenyum dalam balutan selimut.
 Ia tersenyum senang, namun rasa penasaran itu datang. Didalam benaknya menggunjing tanya tentang sosok malaikat yang baginya baik hati ingin membawakan surat untuk ibunya.
’’ Berbaju putih atau hitam, pasti ia bersayap dan wajahnya bersinar terang’’ gumamnya. Ia  penasaran ingin menatap wajahnya lalu menyampaikan kata’’ terima kasih ‘’ kepada malaikat yang membawakan suratnya untuk ibun.
‘’Ah, sebaiknya jangan, nanti kalau aku melihatnya pasti dia akan malu dan pergi tidak membawa suratku untuk ibu’’gumamnya masih masih dalam balutan selimut. Ia sangat ingin berbincang-bicang dengan malaikat yang membawakan surat untuk ibunya. Bertanya tentang kabar ibu dirumahNya, yang menurutnya seperti istana besar di negeri yang belum pernah ada.
Baginya, negeri itu terbang, semua istana berjajaran, pohon-pohon berdaun kuning emas, disana tidak ada pencurian, pembunuhan dan segala bentuk kejahatan. Disana tidak ada permusuhan dan tidak ada yang saling menggunjing. Disana ada manusia bersayap, baginya seperti bidadari yang digambarkan ibunya sebelum pergi. Dalam balutan selimut ia berkata bahwa ia ingin melihat rumahNya.
Ia kembali teringat darah yang mengalir dalam peristiwa pencurian dirumah Bibil. Ia mencoba untuk tidak menggubris peristiwa itu namun, ia tidak bisa melupakan. Peristiwa itu terus hidup dikepalanya.
“Andai ibu masih berada disini pasti cerita itu akan lebih indah?’’ gemingnya yang mendambakan kehadiran ibu.’’Tuhan, izinkan aku melihat ibu, ibu itu baik, ibu itu nggak dosa. Tuhan Engkau pasti tahu, ibu yang mengenalkanku kepadaMu, ibu yang mengajari aku shalat, dan ibu yang mengajri aku ngaji. Ibu yang mengajari aku menghafal surat al-fatihah. Ibu yang mengajri aku tentang huruf alif.’’
Huruf alif, huruf yang paling benar diantara semua huruf  hijaiyah, ia lurus tunggal dan satu, yang melukiskan diriMu. Ia berada di depan mengapa? Sebab agar manusia dengan cepat mengenalnya dan manusia mengetahui bahwa diriMu yang pertama. Namun bagiku letak huruf pertama itu sebuah simbol dariMu sebab langkah pertama manusia di dunia adalah mengenal Tuhan yang tak jauh adalah Engkau.
‘’Tuhan, aku tahu Engkau tidak tidur, Engkau pasti sedang mendengarkanku. Oh ya Tuhan, Engkau pasti melihat peritiwa pencurian dirumah Bibil, mengapa Engkau ambil ayah Bibil, bukankah Engkau tahu bahwa ayah Bibil adalah orang yang baik’’ ia berpikir bahwa orang-orang baik satu perlahan-lahan habis.
‘’Satu catatan lagi Tuhan, ibu yang mengajari aku tentang nama-nama agungMu, ibu juga yang mengajari aku untuk mencintai kekasihMu, dan ibu yang?’’
Praaakk. Terdengar suara pintu yang dibanting dari arah dapur. Ia teriak memanggil ayahnya. Ia berlari memeluk tubuhn ayahnya. Mata ayahnya masih sembirat merah, sebab ayahnya pun baru saja pulang tengah malam tadi ketika ia sedang tertidur pulas. Mungkin ia tidak tahu bahwa kesepulangan ayahnya tadi, membawakan beberapa gorengan ubi yang  mungkin sekarang sudah basi.
‘’Kenapa Nak?’’ tanya ayahnya yang setengah sadar.
‘’Di dapur ada pencuri, dia pencuri yang masuk kerumah Bibil dan membunuh ayah Bibil malam itu’’ ucapnya dengan wajah yang trauma.
‘’Emang kau tahu wajah pencuri yang masuk kerumah Bibil?’’
‘’Iya, aku tahu!’’
‘’Kamu mau menjelaskan untuk ayah?’’
‘’iya. Malam itu ayah bilang tidak akan pulang, setelah aku selesai menulis surat utuk ibu, lalu aku memutuskan untuk belajar dirumah Bibil. Ibunya Bibil meminta aku untuk tidur dirumahnya sebab aku sudah memberitahu tentang ayah yang tidak pulang malam itu. Namun,  ditengah diriku yang sedang tertidur ada yang mendobrak pintu dapur rumah Bibil. Aku mendengarnya, jantungku seakan berhenti berdegup. Darah ini membeku, kepala ini kaku dan aku melihat tiga pencuri itu, aku memutuskan untuk bersebunyi dibawah kolong meja makan  bundar didapur rumah Bidil. Dua pencuri itu membawa samurai, dan yang satunya membawa pistol’’ ayahnya semakin memasang wajah serius.
‘’Lalu ?’’
‘’Berulangkali pencuri itu melepas tembakan sebagai peringatan pada ayah Bibil agar tidak melawan namun, ayah bibil memang orang yang keras kepala, apalagi ia tahu hartanya akan diambil pencuri. Ayah Bibil melawan dengan beberapa jurus silat yang ia punya. Satu pencuri dapat dikalahkan oleh jurus silat kera putih, dan satunya lagi dikalahkan dengan jurus macan kumbang’’ ayahnya mengkernyitkan dahi.
‘’Ayah, tidak percaya?’’
‘’Ayah belum selesai mendengar ceritamu Nak’’
‘’Ayahnyna Bibil sanagat murka malam itu, namun jurus silatnya yang ketiga tidak mampu menghindarkan ayahnya Bibil dari butir peluru yang dilepaskan oleh pencuri. Butir timah panas itu berhasil melubangi jantung ayah Bibil. Dua buah suara letupan senjata itu membangunkan ayam-ayam di kampung. Bibil dan ibunya berteriak dari dalam kamar karena pencuri itu menyekapnya’’
‘’Jadi kamu telah mengetahui kronologis peristiwa itu’’
‘’Iya’’
‘’Namun kau sudah terlambat Nak?’’
‘’Belum!’’
‘’Malam itu, aku melihat darah ayah Bibil mengalir deras dengan cepat membeku seperti darah kambing yang baru disembelih.
‘’Apa yang diambil oleh pencuri itu?’’
‘’Mereka membobol brangkas, namun mereka tidak sedikitpun mengambil uang dan perhiasan yang ada didalamnya. Mereka mengobrak-abrik semua isi lemari namun mereka tidak mengambil sesuatu apapun yang ada dilemari. Mereka menyerlorotlkan semua laci namun tidak mengambil surat-surat penting didalamnya. Mereka melihat lukisan dan benda-benda antik yang  memiliki nilai jual sangat tinggi namun mereka hanya melengeuh sial’’
‘’Lalu apa yang mereka ambil?’’
‘’Mungkin mereka hanya maling musiman atau maling yang hanya mengikuti trend , atau  sedang naik daun. Sebab ia hanya mengambil dua buah cincin akik yang terpasang dijari ayah Bibil. Untung mereka tidak mengambil blackberry atau gandget ayah Bibil yang bisa mereka gunakan untuk bbm, face book, twiter, instagram dan banyaklah yang aku tidak tahu namanya’’
‘’Di dapur tadi, bukan suara maling tapi suara kucing”
‘’Benarkah, coba ayah tengok?’’ pintanya yang ketakutan.
Ayahnya berjalan, langkah demi langkah diletakan dengan sangat pelan hingga tak dilihatnya lagi oleh mata gadis kecil itu. Gadis kecil itu menunggu ayahnya kembali. Seketika ayahnya berteriak kencang.
“Ayah!’’ teriak gadis kecil itu, setelah teriakannya semua lampu dirumahnya mati....(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar