Sepak
Bola Pemumpuk Naionalisme dan Solidaritas
Akhsin
Fuadi
Beberapa
hari ini tepatnya sejak pada piala AFF (Asosiation Footbal Federation)
masyarakat Indonesia kembali dihidangkan tayangan yang dapat memupul rasa
nasionalisme dan solidaritas masyarakt.
Vacum-nya
Indonesia dari kancahh persepakbolaan internasional khususnya Asia yang
dikarenakan sanksi yang diberikan oleh Federation
International Football Assosiation (FIFA) terhadap Induk persepakbolaan
tanah air PSSI terkait kisruh yang terjadi antara PSSI dengan Kemenpora mengakibatkan
Tim sepak bola Indonesia di istirahatkan dari ajang kompetisi Internasional.
Bila
kita kembali ke beberapa tahun ke belakang seiring dengan berjalannya sanksi
FIFA terhadap PSSI, ketegangan muncul dalam diri masyarakat Indonesia. Pertelevisian
lebih hanya menyiarkan isu-isu politik, yang dikatakan berita berat dan tidak
semua kalangan dapat menerima, kasus sejumlah artis seperti perceraian,
perselingkuhan yang minim akan nilai-nilai pendidikan. Selain itu tayangan
pertelevisian masyarakat di dominasi oleh sinteron dan telenovela dan berbagi
tayangan lain yang menurut penulis sendiri kurang mendidik dan sedikit sangat
minim akan nilai-nilai pendidikan mengingat penetrasi atau penyajian tayangan
tidak hanya untuk orang dewasa akan tetapi juga menjadi tontonan untuk
anak-anak. Sehingga dapat dikatakan bahwa satu tayangan harus mampu dan layak serta
menarik untuk ditonton oleh berbagai kalangan dan usia secara bersamaan tanpa
harus mengurangi nilai-nilai kebaikan dan di dalamnya.
Akan
tetapi setelah dicabutnya sanksi FIFA terhadap PSSI pada akhir bulan Mei
kemarin, pertelevisian mulai ramai, persepakbolaan Indoensia kembali ramai
termasuknya adalah Piala AFF yang kini menjadi puast perhatian masyarakat Indonesia.
Bila kita telaah sedikit lebih dalam moment AFF dapat dijadikan moment yang
cukup berharga untuk mensuntikan nilai-nilai nasionalismne dan solidaritas
masyarakat Indonesia mengingat akhir-akhir ini ini terdapat sejumlah kasus
terkait nasionalisme. Seperti kasus pada yang terjadi di bulan Agustus menjelang
upacara kemerdekaan yaitu Gloria, Paskibra yang tidak diizinkan dalam
pengibaran bendera dikarenakan memiliki
kewarganegaraan ganda. Dan kasus Menteri ESDM Arcandra Tahar yang mengakibatkan
menteri ESDM dari Kabinet Kerja diberhentikan oleh presiden Jokowi dengan
alasan yang sama yaitu berkewarganegaraan ganda. Kedua kasus ini dikatakan
menyinggung soal nasionalisme.
Nasionalisme
memang bukan permasalaha kecil mengingat pentingnya nasionalisme serta solidaritas
masyarakat adalah salah satu bekal dalam upaya pembangunan bangsa. Nasionalisme
harus tetap ada dan dijaga secara konsisten serta turun menurun dan dijadikan
sebuah warisan budaya yang baik bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, nasionalisme
yang merupakan salah satu bentuk partisispasi masyarakat terhadap bangsanya
harus diupayakan sedemikian mungkin agar tetap mendarah daging dalam diri
masyarakat.
Lalu
bagimana jalan untuk menumbuhkan nasionalisme? Tentunya banyak jalan dan cara
yang bisa dilakukan untuk membangkitkan nasionalisme tanpa harus mengajak
masyarakat untuk berperang seperti jaman penjajah. Sepertinya nasionalisme
tumbuh tidak hanya melalui pelajaran kewarganegaraan saja atau melalui
pembiasaan upacara bendera yang tidak semua bisa khidmat dan buang sampah pada
tempatnya yang tidak semua masyarakat sadar, akan tetapi nasioanalisme juga
bisa tumbuh dalam sorak kegembiraan yakni melalui persepakbolaan.
Persepakbolaan harus dinilai sebagai wujud nasionalisme yang tidak kurang
berarti, relevan serta berberkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai
nasionalisme.
Lalu
muncul pertanyaan bagimana sepak bola mampu memupuk serta memberi ruang bagi
nasionalisme?.
Pertama-
Indonesia terdiri atas ratusan pulau yang tiap daerah memiliki budya, bahasa
yang berbeda dan dirangkul dalam kebhinekatunggakikaan. Selain itu Indonesia
mengakui adanya pluralisme agama, sebagaimana terkandung dalam butir Pancasila
Sila Ke-1. Semua itu menjadi asset dan juga tantangan bagi Indoneisa. Dikatakan
aset, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki
beranekaragam, kekayaan budaya dan bahasa namun mampu di satukan dalam satu
tujuan. Dan tantangannya adalah perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan
masyarakat dengan konsep dan pemikiran berbeda-beda yang dipengaruhi oleh adat
dan budaya masing-masing sekaligus budaya lain yang masuk akibat dari proses
globalisasi itu tidak mudah diseragamkan.
Kedua-
Dengan mengadopsi model pembelajaran happy
leraning yang pada intinya adalah model pembelajaran yang menyenangkan,
sepak bola dapat dijadikan media pembeajaran dalam pembangkitan dan penanaman
nilai nasionalisme dalam diri masyarakat, sebab di dalam sepak bola terdapat
unsur kebahagiaan, kesenangan, tanpa keterpaksaan, sehingga akan dengan mudah
muncul seiring dengan rasa kebanggaanya.
Disinilah
sepak bola akan masuk memberi ruang atau wadah bagi setiap perbedaan, baik
perbedaan bahasa ras, suku, adat, agama dan pendapat untuk bisa diseragamkan
dalam nasionalisme serta memberi pelajaran dalam masyarakat.
Kita
lihat pertandingan terakhir antara Indonesia melawan Vietnam di Stadion
Pakansari, Bogor pada Sabtu malam. Sangat jelas bahwa dibangku penonton tidak
ada keinginan untuk membeda-bedakan, semua gembira mendukung Timnas Indonesia,
semua berambisi mendukung Timnas Indonesia memenangkan pertandingan sebab
mereka akan bangga dan bahagia jika Timnas Indonesia mendapat kemenangan.
Sebaliknya, jika mendapat hasil yang tidak diinginkan maka akan ada kekecewaan
masyarakat Indonesia. Dari fenomena tersebut sangat jelas bahwa rasa kepedulian
masyarakat, nasionalisme, bangga terhadap bangsanya sendiri, rasa cinta tanah
air muncul sebab tidak mau Indonesia kalah dengan negara lain. Tindakan semacam
inilah yang seungguhnya perlahan mampu
memupuk nasionalisme masyarakat Indonesia.
Ekspresi
kebahagiaan penonton baik televisi ataupun yang datang langsung ke stadion
adalah wujud nasionalisme yang harus terus di pupuk dengan ajang kompetisi
keolahragaan baik di cabang sepak bola ataupun cabang-cabang lain. Dengan terus
memberikan suntikan dan tayangan sperti diatas secara terus-menerus maka akan semakin
bertambah pula rasa nasionalisme dalam diri masyarakat, sehingga akan muncul
rasa kasih sayang, cinta, serta ingin menjaga tanah air serta rela berkorban
untuk tanah air.
Langkah
Berkelanjutan
Nasionalisme
tidak akan tumbuh begitu saja tanpa ada perantara yang menjadi jalan untuk menumbuhkan.
Maka untuk selalu bisa memberikan dan menyuntikan nilai-nilai nasionalisme
dalam diri masyarakat, perlu adanya pemumpukan nilai nasionalisme secara
berkelanjutan, atau konsisten. Cara itu bisa di capai dengan cara sebagai
berikut.
Pertama-
peran pemerintah tidak pernah lepas dari upaya pemupukan nasionalisme dalam
diri masyarakat, dengan kata lain pemerintah harus mampu memfasilitasi berbagai
bentuk upaya yang mampu mengembangkan nilai nasionalisme. hal itu sudah
dilakukan dengan hadirnya Presiden Jokowi bersama wakil presiden Jusuf Kalla dan
juga ketua DPR Setya Novanto. Langkah ini dapat dikatakan langkah yang apik
yang dilakukan oleh presiden untuk memberikan dukungan moril terhadap Timnas
Indonesia. Akan tetapi dukungan moril dan apresiasif itu belum cukup. Maka
harus ada dukungan secara materi. Dukungan materi dapat dilakukan dengan cara
memberi beasiswa kepada anak bangsa yang berprestasi dalam bidang keolahragaan
untuk mengembangkan potensi di luar negeri atau sekolah khusus keolahragaan
dalam negeri. Beasiswa tidak hanya diberikan untuk siswa yang berprestasi dalam
bidang akademik akan tetapi olahraga perlu adanya upaya pemberian bantuan
pelatihan mengingat segala bidang mampu menjadi bahan pembangunan bangsa.
Kedua,
pertelevisian Indonesia harus mengurangi tayangan-tayangan yang kurang mendidik
seperti yang disebutkan diatas dan mulai menambah tayangan-tayangan yang mampu
membangkitkan jiwa nasionalisme dalam diri masyarakat seperti sepak bola, bulu
tangkis serta tayangan lain yang mampu membangkitkan nasionalisme.
Ketiga,
semua pihak terkait dengan nasionalisme seperti pemerintah, masyarakat,
supporter bola harus bekerjasama, menjaga kredibilitas dan sikap.
Hal ini dilakukan menghindari terulangnya kembali vonis FIFA terhadap PSSI yang
kala itu membuat Indonesia absen dari kancah kompetisi dan ajang-ajang
bergengsi lainnya.
Hal
tersebut mampu membangkitkan nasionalisme. Apalagi pada tahun 2018 nanti
Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah SEA GAMES, langkah-langkah diatas
harus dilakukan dan dapat dijadikan bekal demi tercapainya pembangunan bangsa
yang berkualitas dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar