Senin, 27 Februari 2017

Artikel Sepak Bola dan Nasionalisme



Sepak Bola Pemumpuk Naionalisme dan Solidaritas
Akhsin Fuadi

Beberapa hari ini tepatnya sejak pada piala AFF (Asosiation Footbal Federation) masyarakat Indonesia kembali dihidangkan tayangan yang dapat memupul rasa nasionalisme dan solidaritas masyarakt.
Vacum-nya Indonesia dari kancahh persepakbolaan internasional khususnya Asia yang dikarenakan sanksi yang diberikan oleh Federation International Football Assosiation (FIFA) terhadap Induk persepakbolaan tanah air PSSI terkait kisruh yang terjadi antara PSSI dengan Kemenpora mengakibatkan Tim sepak bola Indonesia di istirahatkan dari ajang kompetisi Internasional.
Bila kita kembali ke beberapa tahun ke belakang seiring dengan berjalannya sanksi FIFA terhadap PSSI, ketegangan muncul dalam diri masyarakat Indonesia. Pertelevisian lebih hanya menyiarkan isu-isu politik, yang dikatakan berita berat dan tidak semua kalangan dapat menerima, kasus sejumlah artis seperti perceraian, perselingkuhan yang minim akan nilai-nilai pendidikan. Selain itu tayangan pertelevisian masyarakat di dominasi oleh sinteron dan telenovela dan berbagi tayangan lain yang menurut penulis sendiri kurang mendidik dan sedikit sangat minim akan nilai-nilai pendidikan mengingat penetrasi atau penyajian tayangan tidak hanya untuk orang dewasa akan tetapi juga menjadi tontonan untuk anak-anak. Sehingga dapat dikatakan bahwa satu tayangan harus mampu dan layak serta menarik untuk ditonton oleh berbagai kalangan dan usia secara bersamaan tanpa harus mengurangi nilai-nilai kebaikan dan di dalamnya.
Akan tetapi setelah dicabutnya sanksi FIFA terhadap PSSI pada akhir bulan Mei kemarin, pertelevisian mulai ramai, persepakbolaan Indoensia kembali ramai termasuknya adalah Piala AFF yang kini menjadi puast perhatian masyarakat Indonesia. Bila kita telaah sedikit lebih dalam moment AFF dapat dijadikan moment yang cukup berharga untuk mensuntikan nilai-nilai nasionalismne dan solidaritas masyarakat Indonesia mengingat akhir-akhir ini ini terdapat sejumlah kasus terkait nasionalisme. Seperti kasus pada yang terjadi di bulan Agustus menjelang upacara kemerdekaan yaitu Gloria, Paskibra yang tidak diizinkan dalam pengibaran bendera  dikarenakan memiliki kewarganegaraan ganda. Dan kasus Menteri ESDM Arcandra Tahar yang mengakibatkan menteri ESDM dari Kabinet Kerja diberhentikan oleh presiden Jokowi dengan alasan yang sama yaitu berkewarganegaraan ganda. Kedua kasus ini dikatakan menyinggung soal nasionalisme.
Nasionalisme memang bukan permasalaha kecil mengingat pentingnya nasionalisme serta solidaritas masyarakat adalah salah satu bekal dalam upaya pembangunan bangsa. Nasionalisme harus tetap ada dan dijaga secara konsisten serta turun menurun dan dijadikan sebuah warisan budaya yang baik bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, nasionalisme yang merupakan salah satu bentuk partisispasi masyarakat terhadap bangsanya harus diupayakan sedemikian mungkin agar tetap mendarah daging dalam diri masyarakat.
Lalu bagimana jalan untuk menumbuhkan nasionalisme? Tentunya banyak jalan dan cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan nasionalisme tanpa harus mengajak masyarakat untuk berperang seperti jaman penjajah. Sepertinya nasionalisme tumbuh tidak hanya melalui pelajaran kewarganegaraan saja atau melalui pembiasaan upacara bendera yang tidak semua bisa khidmat dan buang sampah pada tempatnya yang tidak semua masyarakat sadar, akan tetapi nasioanalisme juga bisa tumbuh dalam sorak kegembiraan yakni melalui persepakbolaan. Persepakbolaan harus dinilai sebagai wujud nasionalisme yang tidak kurang berarti, relevan serta berberkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai nasionalisme.
Lalu muncul pertanyaan bagimana sepak bola mampu memupuk serta memberi ruang bagi nasionalisme?.
Pertama- Indonesia terdiri atas ratusan pulau yang tiap daerah memiliki budya, bahasa yang berbeda dan dirangkul dalam kebhinekatunggakikaan. Selain itu Indonesia mengakui adanya pluralisme agama, sebagaimana terkandung dalam butir Pancasila Sila Ke-1. Semua itu menjadi asset dan juga tantangan bagi Indoneisa. Dikatakan aset, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki beranekaragam, kekayaan budaya dan bahasa namun mampu di satukan dalam satu tujuan. Dan tantangannya adalah perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan masyarakat dengan konsep dan pemikiran berbeda-beda yang dipengaruhi oleh adat dan budaya masing-masing sekaligus budaya lain yang masuk akibat dari proses globalisasi itu tidak mudah diseragamkan.
Kedua- Dengan mengadopsi model pembelajaran happy leraning yang pada intinya adalah model pembelajaran yang menyenangkan, sepak bola dapat dijadikan media pembeajaran dalam pembangkitan dan penanaman nilai nasionalisme dalam diri masyarakat, sebab di dalam sepak bola terdapat unsur kebahagiaan, kesenangan, tanpa keterpaksaan, sehingga akan dengan mudah muncul seiring dengan rasa kebanggaanya.
Disinilah sepak bola akan masuk memberi ruang atau wadah bagi setiap perbedaan, baik perbedaan bahasa ras, suku, adat, agama dan pendapat untuk bisa diseragamkan dalam nasionalisme serta memberi pelajaran dalam masyarakat.
Kita lihat pertandingan terakhir antara Indonesia melawan Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor pada Sabtu malam. Sangat jelas bahwa dibangku penonton tidak ada keinginan untuk membeda-bedakan, semua gembira mendukung Timnas Indonesia, semua berambisi mendukung Timnas Indonesia memenangkan pertandingan sebab mereka akan bangga dan bahagia jika Timnas Indonesia mendapat kemenangan. Sebaliknya, jika mendapat hasil yang tidak diinginkan maka akan ada kekecewaan masyarakat Indonesia. Dari fenomena tersebut sangat jelas bahwa rasa kepedulian masyarakat, nasionalisme, bangga terhadap bangsanya sendiri, rasa cinta tanah air muncul sebab tidak mau Indonesia kalah dengan negara lain. Tindakan semacam inilah yang  seungguhnya perlahan mampu memupuk nasionalisme masyarakat Indonesia.
Ekspresi kebahagiaan penonton baik televisi ataupun yang datang langsung ke stadion adalah wujud nasionalisme yang harus terus di pupuk dengan ajang kompetisi keolahragaan baik di cabang sepak bola ataupun cabang-cabang lain. Dengan terus memberikan suntikan dan tayangan sperti diatas secara terus-menerus maka akan semakin bertambah pula rasa nasionalisme dalam diri masyarakat, sehingga akan muncul rasa kasih sayang, cinta, serta ingin menjaga tanah air serta rela berkorban untuk tanah air.
Langkah Berkelanjutan
Nasionalisme tidak akan tumbuh begitu saja tanpa ada perantara yang menjadi jalan untuk menumbuhkan. Maka untuk selalu bisa memberikan dan menyuntikan nilai-nilai nasionalisme dalam diri masyarakat, perlu adanya pemumpukan nilai nasionalisme secara berkelanjutan, atau konsisten. Cara itu bisa di capai dengan cara sebagai berikut.
Pertama- peran pemerintah tidak pernah lepas dari upaya pemupukan nasionalisme dalam diri masyarakat, dengan kata lain pemerintah harus mampu memfasilitasi berbagai bentuk upaya yang mampu mengembangkan nilai nasionalisme. hal itu sudah dilakukan dengan hadirnya Presiden Jokowi bersama wakil presiden Jusuf Kalla dan juga ketua DPR Setya Novanto. Langkah ini dapat dikatakan langkah yang apik yang dilakukan oleh presiden untuk memberikan dukungan moril terhadap Timnas Indonesia. Akan tetapi dukungan moril dan apresiasif itu belum cukup. Maka harus ada dukungan secara materi. Dukungan materi dapat dilakukan dengan cara memberi beasiswa kepada anak bangsa yang berprestasi dalam bidang keolahragaan untuk mengembangkan potensi di luar negeri atau sekolah khusus keolahragaan dalam negeri. Beasiswa tidak hanya diberikan untuk siswa yang berprestasi dalam bidang akademik akan tetapi olahraga perlu adanya upaya pemberian bantuan pelatihan mengingat segala bidang mampu menjadi bahan pembangunan bangsa.
Kedua, pertelevisian Indonesia harus mengurangi tayangan-tayangan yang kurang mendidik seperti yang disebutkan diatas dan mulai menambah tayangan-tayangan yang mampu membangkitkan jiwa nasionalisme dalam diri masyarakat seperti sepak bola, bulu tangkis serta tayangan lain yang mampu membangkitkan nasionalisme.
Ketiga, semua pihak terkait dengan nasionalisme seperti pemerintah, masyarakat, supporter bola  harus  bekerjasama, menjaga kredibilitas dan sikap. Hal ini dilakukan menghindari terulangnya kembali vonis FIFA terhadap PSSI yang kala itu membuat Indonesia absen dari kancah kompetisi dan ajang-ajang bergengsi lainnya.
Hal tersebut mampu membangkitkan nasionalisme. Apalagi pada tahun 2018 nanti Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah SEA GAMES, langkah-langkah diatas harus dilakukan dan dapat dijadikan bekal demi tercapainya pembangunan bangsa yang berkualitas dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar