Jumat, 22 Juli 2016



Lilin dan Sedahan Api
Malam itu datang tidak begitu sempurna. Sang rembulan enggan keluar dari sarangnya, hitam legam tanah ini tanpa sinarnya, sungguh malam minggu yang tak pernah ia damba kehadirannya. Ia menelanjangi langit, tiada satupun titik cahaya yang tergores di langit utara. Hanya ada dua bercak cahaya dan itupun jauh diujung sana yang katanya langitnya dewa dewi. Angin berhembus kencang menyisir pepohonan disepanjang jalan desa, ia merasa sebatang lilin yang akan menemani di kegelapan malam ini saat ayah dan ibunya pergi keluar kota.
Sejak pagi listrik di desa mati, tiada kabar yang yang terbang menghampiri telinganya  tentang kapan listrik di desanya hidup lagi. Ia hanya berharap kegelapan cepat berakhir, sebab ia takut akan kegelapan. Ia hanya duduk tenang didalam kamar menemani cahaya lilin yang menjadi sumber penerangan. Ia lindungi api dengan kedua tangan. Ia tidak bisa bayangkan jikalau lilin dihadapannya mati ditengah kegelapan. Kemana aku harus berlari mengemis sebatang korek api dan lilin sedangkan di warung sudah habis semua karena kabarnya pemadaman listrik akan lama. Bilapun aku harus beli sangat jauh dari rumahku. Meskipun dekat akupun takut untuk keluar rumah karena diluar sana sedang terjadi pertikaian alam. Pertiikaian itu tampak dari langit yang sangat hitam, rembulan yang tidak ingin keluar, angin berhembus kencang dan sebentar lagi hujan datang turut memanaskan pertikaian alam malam ini.
Ditengah suasana alam yang membungkam bisu tubuh ini, seorang lelaki datang menggedor-nggedor pintu rumah. Suara itu mengejutkan aku. Seakan menghentikan aliran darah di kepalaku, membuat kepala ini terasa berat dan kaku. Tubuh ini bergetar, diri ini takut, berulangkali gedoran pintu itu kudengar semakin kudiamkan semakin keras suara gedoran pintu kudengar. Terpaksa kubukakan pintu untuk orang yang menyebalkan meskipun aku belum tahu siapa orang itu.
‘’Mas Bayu….!’’
‘’Silahkan masuk Mas….’’
Mas Bayu datang dengan baju yang basah kering, Dia adalah sahabat kakaku yang telah meninggal dua tahun silam karena kecelakaan di perempatan jalan menuju pusat perkotaan. Mereka berdua bersahabat sangat kental. Didalam kamar almarhum kakaku masih tertempel foto kebersamaan mereka mengenakan baju relawan saat membantu korban bencana di pulau seberang. ‘’Ngomong-ngomong ada keperluan apa Mas Bayu datang kerumah Sukma,?” Mas Bayu mau menyampaikan pesan dari ibumu, tadi ibumu menelpon kamu katanya handphone kamu tidak aktif, lalu ibumu menitipkan pesan bahwa kepulangannya ditunda tiga hari lagi’’. Mengapa ibu selalu menunda kepulangannya ,apakah ibu sudah mulai lupa dengan anak perempuannya dirumah?’’ bisik hati yang kecewa.
‘’Mas Bayu mau bantuin Sukma nggak ?‘’
‘’Sebisaku ‘’
‘’Beneran ?’’ Dia mengangguk.
‘’Tolong Sukma belikan lilin dan korek api, Sukma takut mau keluar disepanjang jalan hanya ada kegelapan,dan angin yang mengerikan”.Dia tersenyum dan tertegun beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah kata yang dia tinggalkan untuku, yang katanya ingin membantuku. Menyebalkan.
Kututup pintu dan kukunci rapat-rapat, aku kembali ke kamar kembali bertatap wajah dengan cahaya api dari sebatang lilin yang tinggal lima senti. Resah, gelisah tanpa arah, takut masih berselimut dan bahkan bertambah takut karena lilin akan mati kurang lebih dalam waktu lima menit lagi. Keresahan ini semakin bertambah,dan akhirnya sebatang lilin itu habis, kini gelaplah sudah rumahku. Aku hanya mampu berharap listrik hidup lagi.
Kudengar lagi suara gedoran pintu rumah, dia menggedor-nggedor pintu dengan keras. Aku hiraukan orang yang menggedor-nggedor pintu itu.
’’ Siapa orang yang menggedor-nggedor pintu itu, kenapa dia menggedor dengan keras sekali, jangan-jangan dia perampok yang masuk kerumah pak Sobin, dan melukai anak pak Sobin dengan pedangnya yang panjang dan tajam, apakah dia juga akan merampok rumahku yang isinya hanya televisi hitam putih berukuran dua belas inci, kursi yang terbuat dari kayu zaman dahulu, radio kecil kesayangan ayah, jam dinding yang dilapisi kuningan warisan dari orang tua ayah , atau bahkan dia akan  melukai aku, lalu apa salahku sehingga dia datang dengan misi ingin melukaiku?’’.Tanya hatiku yang menerpa-nerpa.
‘’Buka pintunya…!’’ teriak lelaki itu dengan keras, sepertinya dia marah karena tidak kubukakan pintu’’.
Kutekadkan diri untuk membuka pintu, apapun yang terjadi nanti kuserahkan kepada yang maha berkehendak, aku berjalan membawa apapun yang bisa kugunakan untuk melidungi diri ini.
Ckliiik.Terdengar suara pintu yang kubuka, sebuah cahaya merah menyinari wajahnya hampir saja ku memukulnya dengan kayu yang kubawa.Mas Bayu datang lagi dengan bajunya yang basah semua. “Ada apa lagi kamu datang kemari..pulang sana ..!’’.Saya hanya mau mengantarkan apa yang kamu minta tadi,’’ Mas Bayu datang dengan membawa lilin dan korek api.Aku terbungkam dan merasa malu kepada Mas Bayu.
‘’Iya sudah saya pulang dulu “ pamitnya tanpa basa-basi.
Dia pergi dari rumahku diikuti hembusan angin yang meruntuhkan dedaunan yang sedang bercengkraman. Selang lima menit Dia lepas dari rumahku, kudengar suara burung gagak bersahutan diatap rumah dan hembusan angin yang membawa aura mistis. Menurut cerita orang-orang di desaku, suara burung gagak menandakan akan adanya kematian. Kedatangannya menyebarkan berita bahwa aka ada duka di daerah tersebut. Suaranya yang serak mengerikan, melayang-layang di malam hari membawaku dalam dunia mistis. Sesungguhnya aku tidak ingin mempercayai hal itu, namun sulit bagiku untuk hidup menerjang cerita yang telah turun-menurun dan dipercayai oleh orang-orang.
Aku menebak-nebak. Kalau suara burung gagak tadi menyebarkan berita akan kematian, lalu siapa yang akan pergi meninggalkan tanah ini ?. Aku, Ibu, Ayah, atau bahkan Dia ?, semoga bukan diantara kita berempat’’. Pintaku dalam hati. Aku tidak bias tidur semalaman karena rasa takut yang terus menyelimuti hati ini. Aku bagaikan wanita penunggu malam dalam sunyi kegelapan dan ketakutan.Hingga pagi menjelang mata ini masih terbuka, hingga mulai tampak dari wajahku mata merah dan kusam pucat karena kurang tidur.
Satu bulan kemudian Dia datang kembali kerumahku menanyakan lilin dan korek api yang dia berikan untuku di malam itu. Namun aku sudah lupa dengan kedua benda tersebut karena setelah hari itu sudah tidak ada lagi pemadaman listrik. Dia juga berpamitan kepadaku dan kedua orang tuaku bahwa Dia akan pergi keluar kota membantu korban bencana. Ku jawabnya dengan menganggukan kepala.
Tepat jam tiga sore dia akan berangkat, Aku menemuinya di perempatan jalan menuju perkotan, tempat ini pun banyak menyimpan kisah. Aku tatap wajahnya berseri-seri. Tutur katanya menyejukan hati, dan senyumannya seakan mengisyaratkan sebuah janji bahwa dia akan kembali lagi. Hari ini kulihat Dia sangat berbeda dari hari yang lalu, auranya lebih terpancar ,seperti kulihat cahaya putih keluar dari pori-pori tubuhnya. Dulu sebelum dia berangkat bersama kakaku disinilah aku sering ikut mengantarkan mereka, lalu aku  tidak pernah lupa berpesan kepadanya “ jagalah kakaku ‘’ namun tanpa aku bicara hal itu dia juga sudah mengatakan kepadaku “Aku akan menjaga kakakmu “. Dia juga berkata kepadaku “ jagalah lilin dan korek  api yang kuberi karena aku akan kembali lagi untuk menanyakan itu ‘’.
Sesungguhnya aku ingin bersalaman dengannya, namun ayah dan ibu selalu melarangku untuk itu. Aku hanya bisa memandang dan menatap matanya yang perlahan mengecil seakan menandakan dia masih memendangku lebih lama. Akan tetapi waktu selalu hadir dengan keluguan dan kejujurannya, kulihat dirinya semakin mengecil bersama mobil bak yang dinaikinya. Hingga akhirnya tikungan diujung sana menghilangkan pandanganku kepadanya. Ibu mendekati aku dan berbisik kepadaku.
#Sepulangannya nanti Dia akan meminangmu’’



2 komentar: